Bengkulu – Bagi banyak orang, makanan ultra-proses sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari sereal sarapan yang manis, roti tawar empuk, yoghurt rasa buah, hingga protein bar yang diklaim menyehatkan, semua terasa praktis dan mengenyangkan. Namun, laporan CNN (7/8/2025) membawa kabar yang membuat kita perlu berpikir ulang tentang apa yang kita konsumsi. Dr. David Kessler, mantan kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), resmi mengajukan petisi yang menuntut peninjauan ulang status keamanan beberapa bahan penting yang selama ini menjadi tulang punggung industri makanan ultra-proses.
Bahan-bahan seperti pemanis fruktosa tinggi, tepung olahan, dan maltodekstrin selama bertahun-tahun berstatus Generally Recognized as Safe (GRAS), yang berarti “umumnya diakui aman”. Dengan status ini, produsen dapat menggunakannya secara luas tanpa harus melalui pengujian keamanan tambahan dari FDA. Namun, menurut Kessler, bukti ilmiah terkini menunjukkan adanya hubungan kuat antara konsumsi bahan-bahan tersebut dengan risiko obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, hingga kanker. “Diet kita adalah salah satu faktor terbesar dalam epidemi penyakit kronis,” ujarnya. “Kalau kita tidak mengubah apa yang masuk ke tubuh kita, kita akan terus membayar mahal dengan kesehatan.”
Petisi yang diajukan Kessler ini bisa berdampak besar pada rak-rak supermarket. Jika FDA menyetujui pencabutan status GRAS, produsen makanan ultra-proses mungkin harus merombak resep mereka secara total. Perubahan ini berpotensi mempengaruhi rasa, tekstur, hingga umur simpan produk seperti roti, sereal, yoghurt, protein bar, bahkan daging nabati yang sedang populer. Tak menutup kemungkinan, label peringatan kesehatan akan muncul di kemasan produk yang selama ini kita santap tanpa banyak bertanya.
Langkah Kessler juga sejalan dengan kampanye Make America Healthy Again (MAHA) yang dipimpin Menteri Kesehatan AS, Robert F. Kennedy Jr. Kampanye ini menyoroti betapa besar pengaruh makanan ultra-proses terhadap kesehatan, terutama anak-anak. Data menunjukkan, makanan jenis ini kini menyumbang lebih dari 50% asupan kalori harian sebagian besar anak di Amerika. “Masalahnya bukan hanya apa yang kita makan, tetapi bagaimana makanan itu dibuat,” tambah Kessler.
Sesuai prosedur citizen petition, FDA memiliki waktu 180 hari untuk memberikan tanggapan resmi. Prosesnya bisa melibatkan peninjauan ilmiah, diskusi dengan pelaku industri, dan masukan dari publik. Bagi industri makanan, enam bulan adalah waktu yang singkat untuk menyiapkan rencana darurat jika petisi ini disetujui. Sementara itu, bagi konsumen, ini adalah momen untuk mulai lebih teliti membaca label kemasan dan memahami apa saja bahan yang masuk ke tubuh kita.
Meski kasus ini terjadi di Amerika Serikat, dampaknya bisa menjalar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Banyak produk impor maupun lokal menggunakan bahan-bahan yang kini dipermasalahkan tersebut. Jadi, setelah membaca ini, mungkin Anda akan tergoda memeriksa kembali daftar bahan di roti atau yoghurt favorit Anda, sambil bertanya-tanya: apakah bahan “aman” itu masih akan dianggap aman di masa depan?
