“Hidup Bebas di Perantauan: Mahasiswa Mengaku Sering Pulang Malam dan Gaya Hidup Boros”

Ctzone – Hidup jauh dari orang tua memberi ruang kebebasan bagi mahasiswa rantau. Namun, tidak sedikit yang terjebak dalam gaya hidup terlalu berlebihan, sering pulang malam, dan kurang kontrol diri. Dua mahasiswa Universitas Dehasen Bengkulu mengungkapkan kenyataan pergaulan dan gaya hidup boros di kehidupan rantau.

Kehidupan sebagai mahasiswa perantauan sering kali dikaitkan dengan kebebasan dan gaya hidup boros.  Namun, semua mahasiswa kurang mampu mengelola kebebasan itu secara bijak. Hal ini dialami oleh Afifah Aferda (22), mahasiswa semester 7 Fakultas Ilmu Sosial  Universitas Dehasen Bengkulu asal Seluma.

Afifah mengaku, di awal-awal tinggal di kos, ia mengalami perubahan pola hidup yang cukup drastis. Tanpa pengawasan orang tua, ia merasa mudah tergoda untuk mengikuti gaya hidup yang lebih bebas.

“Awalnya saya senang, karena nggak ada yang ngatur. Tapi lama-lama saya sadar sering pulang malam dan nongkrong hampir tiap hari itu bikin saya boros dan kelelahan,” ujar Afifah saat ditemui di kosannya (25/9).

Kebiasaan tersebut, muncul karena rasa ingin menyesuaikan diri dengan lingkungan dan teman-teman baru. Sering kali, ia menghabiskan waktu hingga larut malam di kafe atau tempat nongkrong sepulang kuliah.

“Saya suka main ke kafe sepulang kuliah. Kadang cuma ngopi, tapi bisa sampai malam. Pengeluaran jadi nggak kerasa habis banyak,” tambahnya.

Hal senada dengan Grace (22), mahasiswa Ilmu Komunikasi asal Muko-Muko. Ia mengungkapkan bahwa di awal masa perantauan, dirinya kesulitan mengatur waktu dan keuangan. Dorongan untuk bersosialisasi membuatnya sering mengikuti teman-teman keluar malam dan belanja hal-hal yang tidak penting.

“Jujur, saya ikut-ikutan gaya hidup teman. Nongkrong hampir tiap malam, makan di luar terus. Uang kiriman dari orang tua jadi cepat habis,” ungkap Grace di kosannya (25/9).

Selain itu, Grace mengakui bahwa kebiasaan pulang malam, tidur larut, hingga berlebihan sering makan di luar, membuat pengeluarannya membengkak setiap bulan. Bukan hanya kondisi keuangan yang terdampak, tapi juga kesehatan fisik dan semangat kuliahnya.

“Sempat ngerasa malas banget kuliah. Kadang bangun kesiangan karena pulang malam terus  nongkrong. Uang jajan juga sering habis di pertengahan bulan, padahal belum belanja kebutuhan pokok,” tambahnya.

Kedua mahasiswa tersebut mengakui bahwa kehidupan di dunia perantauan sangat mempengaruhi kebiasaan bebas dan gaya hidup yang cenderung boros. Bagi perantau muda hidup bebas tanpa kontrol diri dapat mengarah pada kebiasaan berlebihan dan merugikan diri sendiri.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *