Manis di Lidah, Pahit di Tubuh : Ancaman Gula di Balik Jajanan Kampus

Ctzone – Di sela kesibukan perkuliahan, kantin kampus kerap menjadi tempat singgah favorit bagi mahasiswa untuk mencari pelepas dahaga dan rasa lapar. Aneka minuman dingin berwarna-warni, cokelat, permen, hingga makanan ringan tersaji dengan harga terjangkau. Namun, di balik kepraktisan dan rasa manis yang menggoda, tersembunyi ancaman kesehatan yang tidak disadari: kandungan gula berlebih. Fenomena inilah yang tengah melanda lingkungan Universitas Dehasen Bengkulu, di mana kebiasaan mengonsumsi gula secara berlebihan perlahan menjadi ancaman serius bagi kesehatan mahasiswa.

Dalam pantauan di area kantin kampus, jajanan seperti Pop Ice, Ale-ale, cokelat kemasan, dan aneka makanan ringan menjadi pemandangan umum di setiap jam istirahat. Tiga mahasiswa—Rudi, Anton, dan Dwi—mengaku hampir setiap hari menikmati minuman atau camilan manis tersebut, meski menyadari risikonya. Rudi, mahasiswa semester empat, mengaku minuman serbuk instan seperti Pop Ice sudah menjadi bagian dari rutinitasnya. “Rasanya enak dan harganya murah, jadi saya hampir setiap hari beli. Apalagi kalau cuaca panas, minuman dingin manis itu paling pas,” ungkapnya sambil tersenyum.

Senada dengan Rudi, Anton juga memiliki kebiasaan serupa. Baginya, cokelat kemasan menjadi teman setia ketika menunggu jam kuliah berikutnya. “Kalau lagi suntuk atau capek, cokelat itu bisa bikin semangat lagi. Rasanya seperti ngasih energi tambahan,” kata Anton sambil menunjukkan bungkus cokelat di tangannya. Sementara itu, Dwi mengaku sulit menghindari jajanan kantin meski tahu kandungan gulanya cukup tinggi. “Kadang sudah tahu manisnya berlebihan, tapi tetap beli karena cepat dan gampang. Kalau lapar atau haus, ya tinggal pesan saja,” tuturnya tanpa ragu.

Kebiasaan ini, menurut pakar kesehatan, dapat menimbulkan dampak jangka panjang yang serius. Konsumsi gula berlebih diketahui meningkatkan risiko berbagai penyakit seperti obesitas, diabetes tipe 2, gangguan jantung, hingga kerusakan gigi. Ancaman ini semakin berbahaya karena gula kerap tersembunyi dalam makanan dan minuman kemasan, membuat mahasiswa sering kali tidak sadar seberapa banyak asupan gula yang mereka konsumsi setiap harinya. “Banyak produk kemasan yang terlihat biasa saja, tapi kandungan gulanya bisa melampaui batas aman konsumsi harian,” kata seorang ahli gizi di Bengkulu ketika dimintai pendapat.

Fenomena ini menjadi peringatan penting bagi mahasiswa untuk lebih selektif dalam memilih makanan dan minuman. Membawa bekal sehat, memperbanyak air putih, serta membaca label kandungan gizi pada kemasan adalah langkah sederhana namun efektif untuk mengurangi risiko kesehatan akibat gula berlebih. Di tengah gaya hidup serba cepat, kesadaran dan pengendalian diri menjadi kunci agar generasi muda tetap sehat dan terhindar dari ancaman manis yang menipu.

(Reporter Lapangan : Muhammad Riffa)

(Editor : Andini wiyandari)

(Penulis berita : Riski defa agung)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *