
Ctzone – Di tengah derasnya arus digitalisasi, game bukan lagi sekadar hiburan, melainkan telah menjadi gaya hidup baru bagi generasi muda. Namun, di balik keseruannya, tersimpan ancaman yang kerap tak disadari: kecanduan game. Fenomena ini bukan hanya merenggut waktu berharga, tetapi juga menggerus produktivitas, kesehatan, hingga relasi sosial.
Salah satu mahasiswa Universitas Bengkulu, Agung Tri Saputra, yang diwawancarai pada Rabu, 24 September 2025, mengungkapkan bahwa dirinya cukup sering bermain game online, khususnya Roblox, di tengah kesibukan menyelesaikan skripsi.
“Game bagi saya adalah hiburan setelah seharian fokus skripsi. Kalau semua tugas selesai, baru saya rehat sejenak dengan bermain game,” ujarnya.
Namun, Agung mengaku kebiasaan begadang hingga larut malam, bahkan sampai subuh, sering terjadi karena terlalu larut dalam permainan. “Awalnya saya bilang ke diri sendiri, main sebentar saja, paling satu jam. Tapi kalau sudah asyik, suka keterusan sampai berjam-jam. Kadang bisa sampai jam satu atau dua malam, bahkan kalau besoknya libur bisa sampai subuh,” tambahnya.
Pandangan berbeda datang dari Arif, kakak sekaligus wali Agung. Menurutnya, aktivitas bermain game memang membawa dua sisi. “Ada manfaatnya, misalnya Agung sering streaming di TikTok dan menghasilkan uang dari saweria. Tapi dampak negatifnya dia sering begadang, lalu siangnya tidur,” jelasnya.
Arif menilai, selama permainan tidak mengganggu kewajiban utama sebagai mahasiswa, aktivitas game masih bisa ditoleransi. Ia juga menegaskan bahwa keluarga sesekali memberikan nasihat bahkan mematikan WiFi agar penggunaan game lebih terkontrol. “Kalau masih sebatas satu sampai dua jam, itu wajar. Tapi kalau sampai begadang, itu sudah berlebihan,” ujarnya.
Fenomena ini menggambarkan dilema digital yang dihadapi mahasiswa: di satu sisi, game online bisa meningkatkan kemampuan komunikasi, mempererat pertemanan, bahkan membuka peluang ekonomi. Namun di sisi lain, tanpa pengendalian diri, game berpotensi mengganggu kesehatan, pola tidur, hingga prestasi akademik.
Agung sendiri menegaskan bahwa dirinya berusaha menjaga keseimbangan. “Saya selalu mengutamakan skripsi dan kewajiban kuliah. Game hanya hiburan agar tidak stres,” katanya.
Era digital menuntut mahasiswa untuk mampu mengelola waktu dengan bijak. Game online memang bagian dari gaya hidup modern, tetapi kunci utamanya adalah keseimbangan agar dunia virtual tidak menenggelamkan tanggung jawab di dunia nyata.
Marcela Anjellika =reporter lapangan
ayu puja arnani = editor
Elsa purtini = penulis utama
