Nongkrong Tak Lengkap Tanpa Rokok: Rokok sebagai Simbol Pergaulan mahasiswa !

Bengkulu, Kamis 2 Oktober 2025 – Menjelang sore, suasana di deretan warung kopi sekitar kampus Universitas Dehasen Bengkulu tampak ramai. Kursi-kursi plastik berjejer rapat, penuh oleh mahasiswa yang datang silih berganti. Di atas meja, gelas kopi panas beradu dengan ponsel, asbak, dan bungkus rokok yang berserakan. Asap putih menari di udara, menyatu dengan tawa dan obrolan ringan yang memenuhi ruangan.

Pemandangan seperti ini bukan hal asing. Di setiap sudut tongkrongan mahasiswa, rokok hampir selalu hadir sebagai bagian dari ritual sosial. Begitu satu orang menyalakan rokok, yang lain segera mengikuti. Kepulan asap seolah menjadi tanda bahwa suasana nongkrong telah “dimulai.”

Dalam setiap lingkaran pertemanan, rokok memainkan peran unik. Ia bukan sekadar benda konsumsi, tetapi menjadi simbol kebersamaan. Mahasiswa yang awalnya sibuk dengan ponselnya mendadak terlibat dalam percakapan panjang setelah sebatang rokok berpindah tangan. Tindakan sederhana seperti menyalakan korek atau menawarkan sebungkus rokok kerap menjadi isyarat keakraban yang tak perlu banyak kata.

Di antara gelak tawa, tampak beberapa mahasiswa yang memilih duduk agak menjauh mereka yang tidak merokok. Meskipun jaraknya tidak jauh, garis sosial terlihat jelas: satu sisi dengan kepulan asap dan tumpukan asbak, sisi lainnya dengan meja kosong tanpa rokok. Namun, keduanya tetap dalam satu ruang yang sama, menikmati suasana sore yang hangat.

Di beberapa meja, obrolan santai berubah menjadi diskusi serius tentang kuliah, organisasi, hingga urusan pribadi. Setiap kali pembicaraan mulai mereda, rokok menjadi alat untuk menghidupkan kembali suasana. Gerakan menyalakan rokok baru sering diikuti oleh gelombang percakapan baru seakan api kecil di ujung rokok juga menyalakan semangat kebersamaan.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana rokok telah melebur dalam budaya nongkrong mahasiswa. Ia menjadi penanda identitas sosial yang tak tertulis: siapa yang menyalakan rokok pertama, siapa yang membawa korek, siapa yang berbagi sebatang dengan temannya. Setiap tindakan kecil itu mengandung makna sosial yang memperkuat rasa kebersamaan di antara mereka.

Namun, di balik kehangatan suasana, ada sisi lain yang tampak jelas. Aroma asap yang pekat sering kali membuat beberapa orang batuk kecil atau menutup hidung dengan tisu. Sementara di sudut lain, bungkus rokok kosong menumpuk di bawah meja jejak kecil dari kebiasaan yang dianggap “biasa.”

Dari hasil pengamatan di berbagai titik tongkrongan mahasiswa di Bengkulu, dapat disimpulkan bahwa rokok bukan lagi sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari gaya hidup. Nongkrong tanpa rokok terasa janggal, seakan ada elemen penting yang hilang. Di mata sebagian mahasiswa, rokok adalah simbol kebersamaan; di mata lainnya, ia adalah jerat yang sulit dilepaskan.

Meski kampanye hidup sehat dan peringatan bahaya merokok terus digaungkan, asap putih itu tetap setia menemani obrolan sore. Ia hadir di setiap meja kopi, di setiap tawa, dan di setiap jeda pembicaraan yang butuh diisi. Di antara denting sendok dan percikan korek api, tradisi itu terus hidupmenjadi bagian dari identitas tongkrongan mahasiswa Bengkulu yang sulit tergantikan.

Prisilia Oktaviani (22100017) Penulis
Arini Putri Pansilian (2210079) Reporter
Dinda Lestari (24100027) Editor

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *