Terjebak FOMO: Ketika Media Sosial Mengendalikan Hidup Seseorang

Ctzone – Media sosial kini tak lagi sekadar tempat berbagi informasi dan hiburan. Bagi sebagian orang, ia telah menjelma menjadi panggung pembuktian diri tempat di mana eksistensi diukur dari jumlah “like”, “view”, dan “story” yang diunggah. Di balik layar yang tampak indah, banyak yang tak sadar terjebak dalam lingkaran FOMO atau Fear of Missing Out ketakutan akan tertinggal dari orang lain.

Salah satunya dialami oleh Rina (21), seorang mahasiswi di Kota Bengkulu. Awalnya, ia hanya iseng mengikuti tren media sosial saat pandemi berakhir pada 2022. Namun, kebiasaan itu berubah menjadi dorongan yang sulit dikendalikan. Setiap kali membuka Instagram atau TikTok, Rina merasa harus memiliki apa yang dimiliki orang lain. Mulai dari membeli barang-barang viral, nongkrong di kafe yang sedang hits, hingga memaksakan diri berlibur ke tempat-tempat yang ramai dikunjungi.

“Kalau teman-teman saya posting, saya juga harus punya. Kalau tidak, rasanya minder, seperti tidak dianggap,” ujar Rina saat ditemui di rumahnya, Jumat (3/10/2025).

Awalnya, semua terasa menyenangkan. Namun lama-kelamaan, tekanan sosial itu membuatnya kehilangan kendali. Rina mengaku sering menggunakan fitur paylater untuk membeli pakaian dan kosmetik hanya agar terlihat “update” di media sosial. Akibatnya, kini ia menanggung hutang yang menumpuk.

Fenomena ini ternyata bukan hanya dialami Rina. Berdasarkan hasil wawancara dengan sejumlah mahasiswa di Bengkulu, FOMO menjadi gejala yang semakin meluas di kalangan anak muda. Banyak yang rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan keuangan demi terlihat tidak tertinggal dalam tren.

“Seolah-olah kalau kita tidak update, kita tidak eksis,” kata Dika (22), pengguna aktif TikTok lainnya yang juga mengaku sering merasa cemas ketika tidak bisa mengikuti tren yang viral.

Fenomena FOMO semakin menonjol sejak masa pandemi berakhir. Aktivitas sosial yang kembali ramai justru memperkuat budaya pamer di media sosial. Algoritma turut memperparah keadaan menampilkan konten populer berulang kali, membuat pengguna merasa semua orang sedang melakukan hal yang sama. Padahal, kenyataannya tidak demikian.

Kini, tekanan itu mulai meninggalkan jejak serius. Tak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga mental. Banyak anak muda mengaku merasa tidak cukup baik jika tidak bisa menampilkan kehidupan yang sempurna di media sosial. Rasa cemas, iri, dan tidak puas diri perlahan menjadi bagian dari keseharian mereka.

Fenomena FOMO bukan lagi sekadar tren digital, melainkan cermin dari krisis identitas generasi muda di era media sosial. Kasus Rina menjadi bukti nyata bagaimana kehidupan virtual bisa memengaruhi dunia nyata mengubah cara berpikir, berbelanja, bahkan menentukan harga diri seseorang.

Reporter Lapangan:
Ganesha Ayu Praditara

Penulis Utama:
Abel Lisa Oktarina

Editor:
Abel Lisa Oktarina

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *