Mahasiswa dan Gula: Penelusuran Lanjutan Mengungkap Pola Konsumsi dan Dampaknya di Kampus

Ctzone – Setelah laporan sebelumnya mengungkap maraknya konsumsi minuman manis di lingkungan kampus, penelusuran lanjutan kali ini menemukan fakta yang lebih dalam. Gula bukan lagi sekadar pemanis dalam cangkir minuman, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup mahasiswa yang diam-diam membentuk pola konsumsi baru—dan membawa dampak yang tak sepele.

Selama dua pekan terakhir, tim melakukan penelusuran di sejumlah titik sekitar kampus Universitas Bengkulu. Dari kantin utama hingga kedai-kedai kecil di sekitar gerbang, hampir semua tempat menawarkan menu dengan kadar gula tinggi. Kopi susu, boba, es teh manis, hingga minuman serbuk instan menjadi pilihan favorit. Meski tampak sepele, di balik setiap gelasnya terkandung lebih dari 20 hingga 30 gram gula—dua kali lipat dari batas wajar konsumsi harian yang direkomendasikan WHO.

Dalam wawancara lanjutan, Agung Tri Saputra—mahasiswa yang sempat menjadi narasumber pada penelusuran pertama—mengaku bahwa kebiasaannya belum banyak berubah. “Saya masih sering main ke kedai kopi malam-malam, apalagi kalau lagi revisi skripsi. Rasanya butuh minuman manis biar fokus,” ujarnya sambil tertawa kecil. Namun di balik tawa itu, ada pengakuan bahwa tubuhnya kini lebih mudah lelah dan sulit tidur setelah begadang sambil minum kopi manis berulang kali.

Sementara itu, Anton—rekan satu kos Agung—mengatakan bahwa kebiasaan membeli minuman manis sudah seperti rutinitas sosial di kalangan mahasiswa. “Kadang bukan karena haus, tapi karena nongkrong bareng teman. Kalau enggak pesen minuman, rasanya aneh,” tuturnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa gula kini tak hanya menjadi konsumsi, tapi juga simbol pertemanan dan bagian dari budaya nongkrong mahasiswa modern.

Penelusuran juga menemukan bahwa sebagian besar kedai minuman di sekitar kampus tidak mencantumkan kadar gula pada menu mereka. Banyak penjual mengaku tidak tahu pasti seberapa banyak gula yang digunakan per gelas. “Kita tuang aja sesuai rasa. Kalau kurang manis, nanti pelanggan komplain,” kata salah satu penjual minuman yang enggan disebut namanya. Ia menambahkan bahwa permintaan minuman manis meningkat tajam saat musim ujian atau menjelang tenggat tugas kuliah.

Menurut Arif, kakak dari Agung yang juga sempat diwawancarai, kebiasaan ini mulai mengkhawatirkan. “Saya lihat Agung makin sering begadang, dan siangnya dia kelihatan lemas. Gula memang bikin semangat di awal, tapi efeknya cepat turun,” ujarnya. Ia berharap ada peran kampus untuk memberikan edukasi sederhana soal pola hidup sehat mahasiswa.

Dari sisi lain, petugas Unit Kesehatan Kampus mengakui bahwa keluhan seperti gangguan tidur, kelelahan, dan nyeri kepala ringan mulai sering dilaporkan oleh mahasiswa. Meski belum ada data spesifik soal kaitannya dengan konsumsi gula, pihaknya menilai bahwa kebiasaan mengonsumsi minuman manis berlebihan memang bisa memengaruhi kestabilan energi dan pola tidur.

Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan gula di kampus bukan sekadar masalah pribadi, melainkan sudah menjadi persoalan kolektif. Kemudahan akses, kebiasaan sosial, dan kurangnya edukasi membuat konsumsi gula seolah menjadi hal yang lumrah, padahal dampaknya jangka panjang bisa serius.

Kampus sendiri sejauh ini belum memiliki kebijakan khusus untuk mengatur penjualan minuman tinggi gula di lingkungan universitas. Beberapa mahasiswa berharap akan ada inisiatif kecil seperti label kandungan gula di menu atau kampanye “less sugar challenge” yang dapat meningkatkan kesadaran tanpa harus membatasi kebebasan konsumsi.

Penelusuran ini menegaskan satu hal: manisnya minuman di kampus menyimpan konsekuensi yang tak kalah pahit. Gula memang memberi energi sesaat, tapi tanpa kendali, ia bisa menjadi candu yang perlahan mengikis kesehatan dan produktivitas generasi muda.

(Reporter Lapangan : Muhammad Riffa)

(Editor : Andini wiyandari)

(Penulis berita : Riski defa agung)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *