Hidup Bebas Akademik Memburuk dan Keuangan Cepat Habis: Mahasiswa Ungkap Penyebabnya

Ctzone – Sebelumnya Hidup jauh dari orang tua memberi ruang kebebasan bagi mahasiswa rantau. Namun, tidak sedikit yang terjebak dalam gaya hidup terlalu berlebihan, sering pulang malam, dan kurang kontrol diri. Penelusuran lanjutan ini kebebasan dalam menjalani kehidupan diperantauan khususnya di akademik yang seharusnya menjadi ruang tumbuh bagi mahasiswa. Namun, bagi sebagian besar mahasiswa, kebanyakan kebebasan ini justru membawa pengaruh negatif.

Dalam wawancara lanjutan, Afifah Aferda sempat menjadi narasumber pertama mengungkapkan bahwa salah satu penyebab buruknya kehidupan akademik ia memburuk dengan tidak mampu mengatur waktu dan pengelolaan keuangan yang kurang benar.

“Saya semenjak kuliah menjadi terlalu bebas, merasa sudah dewasa, akhirnya kuliah disepelekan. Tugas dikerjakan mepet deadline, dan banyak waktu dihabiskan nongkrong atau traveling,” ujar Afifah di kosannya (1/10).

Ia menambahkan, lingkungan pergaulan yang tidak mendukung produktivitas turut berkontribusi pada penurunan semangat belajar

 “ Lingkungan Pertemanan saya kebanyakan malas,  jadi saya ikut malas juga,” tambahnya.

Sementara itu, Grace mengungkapkan sisi keuangan menjadi tidak terkendalikan. Ia mengungkapkan saya terbawa arus gaya hidup konsumtif demi mengikuti tren.

“Setiap minggu ada saya nongkrong di kafe, beli baju, atau nonton konser. Kalau enggak ikut, dianggap nggak gaul. Padahal uang kiriman terbatas,” ungkap Grace di kosannya (1/10).

Ia juga mengatakan pernah dalam sebulan uang sakunya habis dalam dua minggu hanya mengikuti gaya hidup teman-temannya. Namun, pengaruh ini membuat akademik nya memburuk, mengalami stres, hingga terpaksa mencari pinjaman demi memenuhi gaya hidup.

“ Saya sering sampai pinjam uang sama teman karena uang habis buat beli gadget baru. Padahal belum tentu itu penting untuk kuliah,” tambah Grace (1/10).

Kurangnya pengawasan dari kampus dan orang tua setelah mahasiswa memasuki dunia perkuliahan bukan hanya memicu kebebasan yang tak terkendali, Namun, juga membuka celah bagi krisis akademik dan finansial yang bisa berdampak jangka panjang. Ini menjadi peringatan bagi seluruh masyarakat bahwa mendampingi mahasiswa tak cukup berhenti saat mereka memasuki gerbang universitas. Pengawasan, bimbingan, dan perhatian tetap diperlukan agar generasi muda tak kehilangan arah di tengah kebebasan yang mereka miliki.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *