
Ctzone — Di era digital saat ini, harga barang yang kamu lihat di layar bisa saja berbeda dengan harga yang muncul di perangkat orang lain.
Fenomena ini dikenal sebagai “surveillance pricing”, yaitu praktik perusahaan menyesuaikan harga berdasarkan data perilaku dan profil konsumen di internet.
Menurut laporan Al Jazeera tanggal 15 Oktober 2025, sistem ini memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menganalisis riwayat pencarian, lokasi, hingga kebiasaan belanja seseorang. Hasilnya, dua orang yang membeli produk yang sama bisa membayar harga berbeda — tergantung seberapa besar algoritma menilai kemampuan finansial atau minat mereka.
Beberapa perusahaan e-commerce dan maskapai penerbangan diketahui menggunakan metode ini untuk memaksimalkan keuntungan. Misalnya, pengguna yang sering mencari tiket pesawat dianggap memiliki kebutuhan tinggi, sehingga sistem bisa menaikkan harga secara otomatis.
Para ahli menyebut praktik ini sebagai bentuk baru dari “ekonomi pengawasan”, di mana data pribadi menjadi komoditas utama.
Meski dianggap efisien bagi perusahaan, banyak pihak menilai hal ini tidak etis karena melanggar prinsip keadilan harga dan privasi konsumen.
Otoritas perlindungan data di Eropa dan Amerika kini mulai menelusuri praktik tersebut. Mereka menegaskan pentingnya regulasi yang membatasi penggunaan data untuk menentukan harga, agar pasar tetap adil dan transparan bagi semua pihak.
Fenomena surveillance pricing menunjukkan bagaimana kemajuan teknologi tak hanya mengubah cara berbelanja, tetapi juga cara dunia menilai setiap konsumen.
Judul: ‘Surveillance pricing’: Why you might be paying more than your neighbour
Media: Al Jazeera (Features)
Tanggal: 15 Oktober 2025
Al Jazeera
Oleh: Elsa Purtini
NPM: 24100056
Softnews
Link: https://www.aljazeera.com/features/2025/10/15/surveillance-pricing-why-you-might-be-paying-more-than-your-neighbour
