Tarikan Nafas Beraroma Buah: Ilusi Sehat di Balik Vape Mahasiswa

Di tengah gempuran gaya hidup modern, kesadaran mahasiswa terhadap kesehatan justru kerap bertolak belakang dengan perilaku sehari-hari. Salah satu contoh yang menonjol adalah meningkatnya penggunaan rokok elektrik atau vape di kalangan anak muda, termasuk mahasiswa. Fenomena ini bukan sekadar tren, melainkan refleksi dari perubahan gaya hidup dan cara berpikir generasi muda terhadap kesehatan.

Menurut Ns. Tita Septi handayani, S.Kep., MNS, Peneliti Kesehatan, perilaku merokok di usia muda sering kali bermula dari rasa penasaran dan pengaruh lingkungan sejak masa remaja.

“Anak muda biasanya mulai merokok dari rasa ingin tahu. Melihat orang tua, teman, atau lingkungan yang merokok membuat mereka merasa ingin mencoba. Dari coba-coba, akhirnya jadi kebiasaan,” ujarnya, Kampus 2 Universitas Dehasen Bengkulu, Sabtu (18/10/2025)

Dalam pengamatannya, tren merokok di kalangan mahasiswa telah mengalami pergeseran signifikan. Jika dahulu mahasiswa cenderung memilih rokok kretek atau filter, kini banyak yang beralih ke rokok mild atau vape elektrik. Alasan utamanya adalah harga yang lebih terjangkau, aroma yang lebih wangi, dan kesan modern yang melekat pada pengguna vape.

“Rokok kretek sekarang jarang dipakai anak muda. Mereka lebih memilih vape karena dianggap ringan, wangi, dan keren. Padahal kandungan berbahayanya tidak berkurang, bahkan bisa lebih tinggi,” ungkapnya.

Vape sering dipandang sebagai “pengganti sehat” dari rokok konvensional karena tidak menghasilkan asap karbon monoksida. Namun, menurut Tita, anggapan ini keliru. Cairan vape yang telah mengalami proses kimia justru berisiko dua kali lipat, karena mengandung tar, nikotin, dan bahan logam berat yang masuk langsung ke paru-paru melalui uap panas.

“Zat kimia di vape tidak hilang, hanya berubah bentuk dari padat menjadi cair. Itu membuatnya lebih mudah terserap tubuh,” tambahnya.

Fenomena meningkatnya penggunaan vape di kalangan mahasiswa juga menjadi tanda normalisasi perilaku merokok dalam bentuk baru. Jika dulu merokok sering dipandang negatif, kini vape dianggap sebagai bagian dari gaya hidup modern. Bentuk vape yang beragam  kecil, berwarna, hingga menyerupai korek api atau gantungan kunci menambah daya tariknya di kalangan anak muda.

“Sekarang vape dianggap keren. Ada yang bisa dikalungin, bentuknya lucu, dan beli di toko khusus. Jadi selain normal, penggunaan vape juga menaikkan citra diri pengguna di mata teman-temannya,” kata Tita.

Fenomena vape di kalangan mahasiswa bukan sekadar soal tren, tapi juga bentuk pencarian identitas dan tekanan sosial. Gaya hidup yang tampak modern dan menyenangkan itu menyimpan bahaya jangka panjang bagi kesehatan fisik dan mental.

Kesadaran untuk berhenti  atau setidaknya memahami risikonya  menjadi langkah awal yang penting. Karena pada akhirnya, tarikan napas beraroma buah tak selalu berarti sehat, dan asap yang tampak indah bisa jadi menyembunyikan racun yang perlahan menumpuk di dalam tubuh.

Penulis Berita : Prisilia Oktaviani

Reporter Lapangan : Arini Putri Pansilian

Editor : Dinda Lestari

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *