
Bengkulu — Dalam kehidupan kampus yang dinamis, gaya hidup mahasiswa terus berubah mengikuti tren. Namun di balik maraknya gerakan hidup sehat dan pola makan seimbang, muncul kebiasaan baru yang justru bertolak belakang dengan semangat tersebut penggunaan vape atau rokok elektrik.
Bagi sebagian mahasiswa, vape bukan sekadar alat untuk menghisap nikotin, tetapi juga bagian dari identitas diri dan simbol modernitas. Dengan aroma buah yang manis dan bentuknya yang kecil serta elegan, vape dianggap sebagai pilihan “aman” dibanding rokok konvensional. Padahal, di balik kepulan uap beraroma stroberi atau vanila, tersembunyi racun yang tidak kalah berbahaya.
Menurut Ns. Tita Sepihandayani, S.Kep., MNS, peneliti, vape dan rokok konvensional sama-sama berbahaya bagi kesehatan. Keduanya mengandung ribuan zat kimia beracun yang dapat memengaruhi organ vital tubuh, terutama paru-paru, otak, dan sistem saraf.
“Asap rokok mengandung racun yang masuk ke paru-paru dan terbawa darah ke seluruh tubuh. Akibatnya bisa terjadi sumbatan pembuluh darah dan kerusakan otak,” jelas Tita saat diwawancarai di Kampus 2 Universitas Dehasen Bengkulu, Sabtu (18/10/2025).
Ia menambahkan, efek racun dari rokok tidak hanya menyerang perokok aktif, tetapi juga menjangkau orang-orang di sekitarnya, termasuk perokok pasif dan perokok ketiga yaitu mereka yang terpapar sisa asap dan partikel beracun di pakaian atau ruangan tertutup.
“Bahkan kalau saya mencium bau rokok dari mahasiswa, saya sudah jadi perokok ketiga. Artinya zat beracun itu sudah menempel di tubuh saya,” ujarnya.
Zat berbahaya dalam uap vape seperti nikotin, formaldehida, timah, dan nikel dapat menyebabkan gangguan pada fungsi paru-paru, peredaran darah, serta meningkatkan risiko stroke dan penyakit jantung. Efeknya mungkin tidak langsung terasa, tetapi kerusakan yang ditimbulkan bersifat akumulatif dan jangka panjang.
Dari hasil pengamatan dan penelitian Tita terhadap remaja serta mahasiswa, tampak perbedaan mencolok antara perokok dan non-perokok. Mahasiswa yang rutin merokok cenderung memiliki daya konsentrasi lebih rendah, emosi tidak stabil, dan daya tahan tubuh menurun.
“Mahasiswa yang merokok cenderung hiperaktif, mudah tersulut emosi, dan sulit fokus. Mereka juga lebih mudah lelah dan rentan terhadap infeksi,” paparnya.
Sementara mahasiswa non-perokok menunjukkan kemampuan berpikir yang lebih jernih, emosi lebih terkendali, dan stamina lebih stabil dalam menjalani aktivitas akademik.
Menariknya, sebagian mahasiswa justru percaya bahwa merokok dapat membantu mereka berpikir lebih fokus.
“Kalau belum merokok, otak saya buntu,” begitu alasan yang sering Tita dengar dari mahasiswanya.
Ia menjelaskan, keyakinan itu muncul karena efek zat adiktif nikotin yang memicu pelepasan hormon endorfin hormon yang menciptakan rasa tenang dan nyaman sesaat. Namun, efek ini bersifat semu.
“Nikotin membuat otak mengeluarkan hormon endorfin yang memberi rasa tenang. Jadi mereka merasa tidak bisa fokus tanpa rokok. Padahal itu tanda ketergantungan,” tegasnya.
Ketergantungan nikotin, menurut Tita, bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga psikologis dan sosial. Tubuh terbiasa merasa rileks setiap kali menghisap rokok atau vape, sementara otak membangun asosiasi bahwa “menyala, menghisap, dan mengembuskan asap” adalah cara untuk berpikir atau mengatasi stres.
Inilah yang membuat berhenti merokok menjadi sangat sulit. Menurut Tita, penghentian kebiasaan merokok harus dilakukan bertahap dan dibarengi dengan aktivitas pengganti yang memberikan efek relaksasi serupa, seperti teknik pernapasan dalam, olahraga ringan, atau kegiatan sosial.
“Kalau mau rileks, cukup tarik napas dalam dan keluarkan perlahan. Efeknya sama seperti merokok, tapi tanpa racun,” katanya.
Vape memang hadir dengan wajah baru: lebih modern, beraroma manis, dan tampak tidak berbahaya. Namun di balik tampilannya yang menggoda, tersembunyi bahaya yang sama bahkan lebih besar dibanding rokok konvensional.
Kebiasaan ini tidak hanya mengancam kesehatan individu, tetapi juga menormalisasi perilaku berisiko di kalangan generasi muda. Saatnya mahasiswa menyadari bahwa gaya hidup sehat bukan sekadar mengikuti tren, tapi keputusan sadar untuk menjaga masa depan.
Karena pada akhirnya, tarikan napas beraroma buah bukan tanda gaya hidup modern melainkan kabut halus yang perlahan merampas jernihnya pikiran dan kuatnya tubuh muda.
