Dampak FOMO: Remaja Rela Berutang Demi Eksis di Media Sosial

Ctzone — Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) semakin membawa dampak serius bagi remaja di Indonesia. Tekanan untuk selalu mengikuti tren di media sosial mendorong sebagian dari mereka terjebak dalam perilaku konsumtif yang berisiko pada kesehatan mental dan keuangan.

FOMO merupakan kondisi psikologis ketika seseorang merasa takut tertinggal tren sehingga harus selalu terlibat dalam aktivitas populer yang dilakukan orang lain. Remaja menjadi kelompok paling rentan karena mereka sedang berada pada fase pencarian jati diri dan menginginkan pengakuan sosial.

Banyak remaja rela membeli barang viral atau ikut gaya hidup yang sedang tren, meskipun mereka tidak memiliki kemampuan finansial yang cukup.

“Rata-rata hampir remaja lebih memilih tidak apa-apa tidak punya uang, yang penting kita bisa eksis di sosial media.” ungkap Rias Pratiwi S.Psi,.M.Psi.,Psikolog dari Podcast media stikes (6/23)

Dorongan tersebut membuat sejumlah remaja melakukan berbagai cara demi tetap terlihat mampu di dunia maya. Bahkan, mereka tak ragu mengambil langkah berbahaya dan melanggar batas.

“akhirnya kita memaksakan diri untuk pinjol, pinjam uang teman, atau kadang ada yang mengambil uang orang tua,” tambahannya
Tekanan untuk terlihat sempurna di media sosial itu justru menciptakan jurang besar antara realitas dan citra diri yang ditampilkan. Banyak remaja mengalami penurunan kepercayaan diri ketika unggahan mereka tidak mendapatkan perhatian yang diharapkan.

Pakar psikologi memperingatkan bahwa dampak FOMO yang terus dibiarkan dapat memicu gangguan mental seperti kecemasan, depresi, hingga rasa rendah diri kronis. Tidak sedikit pula remaja yang akhirnya mengalami keterpurukan finansial akibat perilaku konsumtif yang tidak terkendali tersebut.

Sekolah dan orang tua diharapkan lebih aktif dalam memberikan edukasi literasi digital, agar remaja mampu membatasi penggunaan media sosial dan memahami bahwa kebahagiaan tidak harus bergantung pada validasi online dari orang lain.

FOMO sendiri dapat dipahami sebagai rasa takut tertinggal atau tidak ikut tren, yang membuat seseorang merasa harus selalu terhubung dan terlibat dalam apa yang sedang ramai diperbincangkan.

penulis naskah: Ganesha Ayu Praditara
Reporter Lapangan: Abel Lisa Oktarina
Editor : Ganesha Ayu Praditara

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *