“UKM Seni UNIVED Bengkulu: Ruang Kreatif yang Menyulam Budaya dan Menumbuhkan Keluarga Baru di Kampus”

Ctzone- Unit Kegiatan Mahasiswa atau UKM Seni Universitas Dehasen Bengkulu telah menjadi salah satu organisasi yang paling berperan dalam menghidupkan suasana budaya di lingkungan kampus. Berdiri dari kebutuhan mahasiswa untuk mengekspresikan minat seni, UKM ini kini menjadi wadah penting untuk mengembangkan bakat, memperkuat jejaring pertemanan, dan menjaga tradisi budaya lokal. Banyak mahasiswa melihat UKM Seni bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi sebagai tempat menemukan versi diri yang lebih kreatif dan percaya diri.

UKM Seni UNIVED memiliki beberapa divisi, antara lain musik, seni rupa, tari dan teater, serta sastra. Setiap divisi memiliki karakter dan kegiatan masing-masing, namun tetap terhubung satu sama lain dalam berbagai bentuk kolaborasi. Keberagaman inilah yang membuat UKM Seni terasa hidup dan dinamis. Dalam satu ruangan kecil, mahasiswa dapat menemukan suara gitar yang berbaur dengan aroma cat akrilik, sekaligus melihat latihan tarian di sudut lain. Harmoni itu menciptakan suasana yang sulit ditemui di tempat lain.

Seni yang tumbuh di UKM ini sangat dipengaruhi oleh budaya Bengkulu. Banyak karya musik yang memasukkan unsur dol, karya rupa yang membawa motif kembang cengkeh, serta pertunjukan teater yang mengangkat cerita-cerita lokal. Budaya bukan hanya menjadi tema, tetapi menjadi identitas yang melekat dalam kegiatan mereka. Para anggota mengaku bahwa dengan ikut UKM Seni, mereka lebih mengenal budaya daerah dan lebih menghargai keberagaman yang ada di sekeliling mereka.

Untuk memahami bagaimana UKM Seni bertahan dan berkembang, penulis melakukan wawancara dengan Rahmat Renaldi, Ketua Umum UKM Seni UNIVED Bengkulu. Rahmat menyambut dengan ramah di ruang latihan yang dipenuhi karya seni dan alat musik. Ia telah memimpin UKM ini selama satu periode dan mengaku bangga melihat anggotanya berkembang.

“Seni di kampus bukan hanya soal tampil. Ini proses belajar, berbagi, dan bertumbuh,” kata Rahmat membuka percakapan.

Rahmat menjelaskan bahwa setiap divisi selalu mendorong anggota baru untuk tidak takut memulai. Di divisi musik, misalnya, sistem mentoring dilakukan oleh anggota senior yang rela mengajari teknik dasar secara intensif. Sementara itu, divisi seni rupa memiliki sudut khusus yang sering disebut “ruang sunyi” tempat anggota bisa menggambar dengan tenang tanpa gangguan. Divisi tari dan teater pun aktif berkolaborasi dalam berbagai acara kampus, menggabungkan gerakan tradisional dan modern.

“Yang kami jaga adalah rasa kekeluargaan. Tidak ada yang merasa paling hebat. Kami belajar dari nol bersama-sama,” tambah Rahmat.

Selama proses wawancara dan pengamatan, penulis menemukan bahwa UKM Seni ternyata memiliki dinamika internal yang lebih kuat daripada yang terlihat dari luar. Setiap divisi memiliki pola kerja yang rapi, meskipun tidak selalu terdokumentasi formal. Kegiatan mereka berjalan harmonis karena setiap anggota memiliki komitmen tinggi. Banyak dari mereka yang datang ke ruang latihan bahkan ketika tidak ada kegiatan resmi, hanya untuk berkarya atau sekadar berbagi cerita.

Pengalaman personal saat melakukan wawancara ini menjadi salah satu momen yang paling berkesan bagi penulis. Saat memasuki ruang latihan, dentingan gitar terdengar bersahut-sahutan, disusul suara tawa anggota yang sedang berdiskusi tentang konsep pertunjukan berikutnya. Di sudut ruangan, dua anggota divisi rupa sedang memoles warna pada sebuah kanvas besar. Suasananya hangat, penuh kreativitas, dan membuat siapa pun merasa diterima.

Sebagai penulis, saya merasakan kesenangan yang tulus sepanjang proses pengumpulan data. Melihat bagaimana para anggota bekerja dengan penuh semangat membuat saya semakin menyadari bahwa UKM Seni bukan hanya tempat kegiatan, tetapi ruang tumbuh bagi banyak mahasiswa.

Dari wawancara tersebut, saya juga menyadari bahwa seni memiliki kekuatan untuk menyatukan orang dengan latar yang berbeda semua dipertemukan oleh keinginan untuk berkarya.

Rahmat sempat menutup pembicaraan dengan kalimat yang membekas,
“Tulis saja apa adanya, supaya orang tahu bahwa UKM Seni itu bukan hanya main musik atau menggambar. Kami di sini membangun keluarga.”

Perkataan itu terasa sangat merepresentasikan kondisi UKM Seni UNIVED Bengkulu. Organisasi ini bukan sekadar tempat mengasah kemampuan artistik, tetapi juga tempat membentuk karakter, memperkuat solidaritas, dan menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya lokal.

Pada akhirnya, UKM Seni UNIVED Bengkulu hadir sebagai penggerak budaya kampus ruang di mana kreativitas diuji, mimpi dirawat, dan persahabatan dibangun. Dengan aktivitas yang terus berkembang dan anggota yang penuh semangat, UKM ini layak disebut sebagai salah satu napas budaya kampus yang terus memberi warna bagi Universitas Dehasen Bengkulu.

Penulis: Annisa Sukma Dwi Oktavia (Okta)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *