Penjual Akui Permintaan Gula Tinggi di Kalangan Mahasiswa

Ctzone – Para penjual minuman di sekitar Universitas Dehasen Bengkulu mengakui bahwa permintaan minuman berkadar gula tinggi dari mahasiswa terus meningkat dari tahun ke tahun. Dalam wawancara langsung dengan sejumlah pedagang, terungkap bahwa satu kios kecil dapat menjual antara 30 hingga 50 gelas minuman manis setiap harinya. Angka tersebut mencakup berbagai jenis minuman populer yang digemari mahasiswa, seperti kopi susu kekinian, es boba, teh manis jumbo, hingga minuman energi sachet yang diseduh langsung di tempat. Bahkan beberapa kios yang khusus menjual es kopi kekinian melaporkan penjualan yang lebih tinggi, dengan capaian lebih dari 70 gelas per hari pada jam-jam istirahat atau setelah jam kuliah berakhir. Permintaan yang stabil dan terus meningkat membuat pedagang menjadikan minuman manis sebagai produk andalan yang tidak pernah sepi pembeli.

Fenomena ini tidak muncul tanpa alasan. Para penjual menjelaskan bahwa minuman manis menjadi pilihan utama mahasiswa karena harganya relatif terjangkau—berkisar antara Rp8.000 hingga Rp15.000—dan menawarkan rasa yang kuat serta bervariasi. Banyak mahasiswa membeli minuman manis bukan hanya karena kebutuhan, tetapi juga sebagai bagian dari rutinitas harian, penambah energi, atau sekadar mengikuti tren. Pengaruh media sosial, terutama TikTok dan Instagram, memperkuat budaya ini. Konten-konten yang menampilkan rekomendasi minuman, review rasa, hingga tren “minuman wajib harian” mendorong mahasiswa untuk mencoba berbagai menu baru yang rata-rata memiliki kadar gula tinggi.

Bagi para penjual, fenomena ini menjadi peluang bisnis yang sangat menguntungkan. Mereka mengakui bahwa minuman manis adalah produk yang paling cepat habis dibandingkan minuman sehat seperti air mineral, infused water, atau jus tanpa gula. Margin keuntungan untuk minuman manis juga jauh lebih besar karena penggunaan bahan baku yang murah namun memiliki nilai jual tinggi. Beberapa penjual mengungkapkan bahwa penjualan air mineral sering kali tidak mencapai setengah dari total minuman manis yang terjual dalam sehari, sehingga mereka lebih berfokus pada varian minuman yang mengandung gula tambahan atau sirup perasa.

Namun, di balik tingginya angka penjualan tersebut, muncul kekhawatiran serius terkait kesehatan mahasiswa. Dalam pengamatan lapangan, beberapa penjual mengaku sering melihat mahasiswa yang membeli minuman manis lebih dari dua kali sehari—pagi sebelum kuliah dan sore setelah kelas berakhir. Kebiasaan ini jelas berisiko, mengingat sebagian besar minuman tersebut mengandung antara 25 hingga 55 gram gula per porsi. Jika dikonsumsi dua kali sehari, mahasiswa bisa mengonsumsi gula dua hingga tiga kali lebih tinggi dari batas maksimal yang direkomendasikan WHO.

Tanpa adanya regulasi atau kebijakan pembatasan dari pihak kampus, tingginya konsumsi gula di kalangan mahasiswa dikhawatirkan akan memicu persoalan kesehatan jangka panjang, mulai dari obesitas, penurunan konsentrasi, gangguan metabolik, hingga risiko prediabetes di usia muda. Situasi ini diperburuk oleh minimnya edukasi tentang gaya hidup sehat dan kurangnya alternatif minuman rendah gula yang tersedia di area sekitar kampus.

Banyak pihak menilai bahwa fenomena ini seharusnya menjadi perhatian serius bagi Universitas Dehasen Bengkulu. Tanpa intervensi, mahasiswa akan semakin terbiasa pada pola konsumsi yang tidak sehat, sementara para penjual akan terus mengutamakan produk yang laris tanpa mempertimbangkan dampak kesehatannya. Para ahli kesehatan menilai bahwa diperlukan kolaborasi antara kampus, penjual, dan mahasiswa untuk menciptakan lingkungan konsumsi yang lebih sehat di area pendidikan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *