Suara yang Berseberangan: Kekhawatiran dan Kritik dari Narasumber yang Menilai Digitalisasi Pendidikan Belum Siap

Ctzone – tengah antusiasme berbagai pihak mengenai masuknya internet dan perangkat digital ke sekolah-sekolah di daerah tertinggal, tidak semua narasumber berbagi pandangan serupa. Di balik optimisme yang berkembang, muncul suara kontra yang menilai bahwa langkah digitalisasi ini belum sepenuhnya tepat dan justru berpotensi menimbulkan masalah baru jika tidak dipersiapkan secara matang.

Salah satu narasumber yang meminta identitasnya disamarkan, menyampaikan kekhawatirannya secara tegas. Ia menilai bahwa digitalisasi sekolah kerap dipromosikan sebagai solusi utama, padahal kondisi di lapangan masih jauh dari kata siap. “Internet memang sudah masuk, tapi apa gunanya kalau listrik saja sering padam? Kita seperti dipaksa mengikuti arus digital, sementara pondasinya belum ada,” ujarnya.

Menurutnya, tantangan yang dihadapi bukan hanya soal jaringan yang sering terputus, tetapi juga keterbatasan sumber daya manusia dan kesiapan budaya belajar. Ia menilai bahwa guru tidak bisa serta-merta dibebani target digitalisasi tanpa pelatihan yang benar-benar memadai. “Pelatihan itu tidak bisa sekadar formalitas. Banyak guru di sini yang bahkan belum terbiasa menggunakan komputer secara maksimal. Kalau dipaksa cepat, yang ada justru stres dan bingung,” tambahnya.

Ia juga menyoroti fakta bahwa digitalisasi, jika tidak dirancang dengan matang, bisa memperlebar kesenjangan antarsiswa. Perangkat yang terbatas membuat banyak siswa tidak mendapatkan akses yang sama dalam proses belajar. “Kalau cuma dua atau tiga komputer untuk satu sekolah, siapa yang benar-benar dapat manfaatnya? Yang rajin saja belum tentu dapat giliran, apalagi yang minder atau takut mencoba,” katanya dengan nada prihatin.

Menurut narasumber ini, langkah pertama yang seharusnya menjadi fokus bukanlah membawa teknologi sebanyak mungkin, tetapi memperbaiki dasar-dasar pendukungnya. Infrastruktur listrik, ruang kelas yang layak, hingga penguatan kemampuan dasar guru dan siswa harus menjadi perhatian utama. Tanpa itu, digitalisasi hanya akan menjadi proyek sesaat yang tidak membawa perubahan signifikan.

Ia juga menegaskan perlunya mendengarkan suara masyarakat lokal sebelum menerapkan program besar. “Kadang kami di bawah ini tidak ditanya. Tahu-tahu alat datang, internet dipasang, tapi kami tidak disiapkan. Padahal yang menjalankan kami, bukan orang kota yang membuat program,” ucapnya.

Meski begitu, narasumber ini tidak menolak teknologi sepenuhnya. Ia hanya meminta agar prosesnya tidak terburu-buru dan benar-benar disesuaikan dengan kondisi daerah. Menurutnya, teknologi bisa memberikan manfaat besar jika fondasinya kuat dan kesiapan manusia serta fasilitas penunjang telah terpenuhi.

Suara kontra ini menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi dalam dunia pendidikan harus direncanakan secara holistik. Antusiasme dan optimisme memang penting, namun kritik dari lapangan juga tak boleh diabaikan. Sebab di sekolah-sekolah terpencil itulah, keberhasilan atau kegagalan digitalisasi benar-benar diuji.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *