Lonjakan Sampah Plastik di Kota Bengkulu: Ancaman Nyata bagi Lingkungan dan Kesehatan

Bengkulu– 5 April 2026 | Lingkungan, Sosial

Ctzone – Di tengah meningkatnya aktivitas masyarakat pasca pandemi dan pertumbuhan konsumsi rumah tangga, Kota Bengkulu kini menghadapi persoalan serius: lonjakan sampah plastik yang semakin tidak terkendali. Plastik yang dulunya dianggap praktis, kini berubah menjadi ancaman nyata bagi lingkungan dan kesehatan warga.

Berdasarkan pantauan di beberapa titik seperti kawasan pasar tradisional dan pinggir pantai, tumpukan sampah plastik terlihat semakin mendominasi. Mulai dari kantong belanja, botol minuman, hingga kemasan makanan sekali pakai, semuanya bercampur tanpa pengelolaan yang baik.

Salah satu warga Bengkulu, Yuni (45), yang diwawancarai pada Minggu (5/4), mengaku prihatin dengan kondisi tersebut.
“Sekarang hampir setiap hari kita lihat sampah plastik berserakan, apalagi di sekitar pasar dan drainase. Kadang kalau hujan, air jadi mampet karena plastik,” ujarnya.

Menurut Rina, kebiasaan masyarakat yang masih bergantung pada plastik sekali pakai menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya volume sampah. Selain itu, kurangnya kesadaran untuk memilah sampah juga memperparah kondisi.

Hal serupa disampaikan oleh Andi, seorang petugas kebersihan di salah satu kawasan kota. Ia mengungkapkan bahwa volume sampah plastik meningkat signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
“Setiap hari kami angkut sampah, tapi yang paling banyak itu plastik. Kadang sehari bisa berkali-kali angkut karena cepat menumpuk,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa keterbatasan fasilitas pengolahan sampah membuat sebagian besar sampah plastik hanya berakhir di tempat pembuangan akhir tanpa proses daur ulang yang maksimal.

Di sisi lain, fenomena ini juga berdampak pada lingkungan pesisir Bengkulu. Sampah plastik yang terbawa aliran sungai sering kali berakhir di laut, mencemari ekosistem dan membahayakan biota laut.

Pengamat lingkungan lokal menilai bahwa permasalahan ini tidak hanya soal kebersihan, tetapi juga menyangkut pola hidup masyarakat. “Selama penggunaan plastik sekali pakai masih tinggi dan kesadaran rendah, masalah ini akan terus berulang,” ujarnya.

Upaya pemerintah sebenarnya sudah mulai dilakukan, seperti sosialisasi pengurangan plastik dan ajakan penggunaan tas ramah lingkungan. Namun, implementasinya di lapangan masih belum optimal.

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa persoalan sampah plastik bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh masyarakat. Perubahan kecil seperti membawa tas belanja sendiri, mengurangi penggunaan plastik, dan memilah sampah dari rumah dapat menjadi langkah awal yang berarti.

Lonjakan sampah plastik di Kota Bengkulu kini menjadi cerminan gaya hidup modern yang perlu segera dikendalikan. Tanpa kesadaran bersama, bukan tidak mungkin masalah ini akan semakin besar dan sulit diatasi di masa depan.

Reporter: Marcela Angelita

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *