
Ctzone – Sore di kawasan Jalan Soeprapto selalu dipenuhi aroma gorengan yang baru saja diangkat dari wajan panas. Asap tipis menari di udara, berpadu dengan debu jalanan dan lalu lintas yang ramai. Dari kejauhan, lapak milik Ibu Tin, penjual gorengan berusia 53 tahun, tampak tak pernah sepi pembeli. Namun di balik keramaian itu, reporter menyaksikan sendiri bagaimana proses pembuatan gorengan yang ternyata jauh dari kata higienis.
Dalam observasi langsung di lokasi, terlihat Ibu Tin menuangkan sayuran ke dalam ember plastik besar yang juga digunakan untuk membuat adonan sebelumnya. Ember itu tampak tidak dicuci terlebih dahulu, hanya langsung ditambah tepung dan air untuk membuat adonan baru.
Tanpa menggunakan alat bantu, Ibu Tin mencampurkan bahan-bahan tersebut menggunakan tangannya sendiri, meremas dan mengaduk adonan hingga rata.
Tidak ada sarung tangan, tidak ada alat pengaduk. Semua dilakukan di ruang terbuka, hanya beralaskan meja kayu di pinggir jalan.
Di sekelilingnya, asap kendaraan dan debu jalanan dengan mudah terbawa angin dan menempel pada bahan adonan yang terbuka. Namun, aktivitas itu tetap berjalan seperti biasa, seolah sudah menjadi rutinitas yang tak perlu dipermasalahkan.
Dalam wawancara lanjutan, Ibu Tin menjelaskan bahwa satu wajan besar di lapaknya berisi sekitar 20 liter minyak goreng.
Minyak tersebut digunakan berulang kali untuk menggoreng berbagai jenis gorengan, mulai dari bakwan hingga tempe dan tahu isi.
“Minyaknya banyak, satu wajan bisa sampai 20 liter. Tapi ya dipakai terus sampai warnanya agak tua. Soalnya kalau diganti terus, boros,” ungkap Ibu Tin dengan nada jujur.
Selain itu, gorengan yang sudah matang langsung diletakkan di wadah tanpa penutup, sehingga terbuka dan mudah terkena debu serta asap kendaraan yang lalu-lalang di sekitar lokasi.
