AS Sebut Hamas Rencanakan Serangan “Segera” Terhadap Warga Sipil Gaza

Ctzone — Pemerintah Amerika Serikat menyatakan memiliki laporan kredibel bahwa kelompok Hamas tengah merencanakan serangan “segera” terhadap warga sipil di Gaza, yang dinilai akan melanggar perjanjian gencatan senjata yang sedang berlaku.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Sabtu (18/10), Departemen Luar Negeri AS menyebut rencana serangan itu sebagai “pelanggaran langsung dan serius” terhadap kesepakatan gencatan senjata serta dapat “menggagalkan kemajuan signifikan” yang telah dicapai melalui proses mediasi.

Washington telah memberitahu negara penjamin perjanjian perdamaian Gaza termasuk Mesir, Qatar, dan Turki serta menuntut Hamas untuk mematuhi seluruh ketentuan gencatan senjata. “Jika Hamas melanjutkan serangan ini, langkah-langkah akan diambil untuk melindungi rakyat Gaza dan menjaga integritas gencatan senjata,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

Hamas sejauh ini belum memberikan tanggapan atas klaim AS tersebut. Presiden Donald Trump sebelumnya juga memperingatkan Hamas agar tidak membunuh warga sipil di Gaza, dengan menegaskan bahwa hal itu bukan bagian dari “kesepakatan” yang telah dicapai. Namun, ia kemudian mengklarifikasi bahwa AS tidak akan mengirim pasukan ke wilayah Gaza.

Sementara itu, Israel melaporkan telah menerima dua jenazah lagi dari Gaza yang diklaim Hamas sebagai sandera, meski identitasnya belum dipastikan. Hingga kini, 10 dari 28 jasad sandera telah dikembalikan ke Israel.

Dalam waktu yang sama, pasukan Israel dilaporkan menewaskan 11 anggota satu keluarga Palestina akibat tembakan tank ke arah kendaraan yang disebut “mencurigakan”. Insiden ini menjadi peristiwa paling mematikan yang melibatkan tentara Israel sejak gencatan senjata dimulai.

Perang di Gaza bermula dari serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 warga Israel dan menyandera 251 orang. Sejak saat itu, lebih dari 68.000 warga Gaza dilaporkan tewas akibat serangan balasan Israel, menurut data kementerian kesehatan Gaza yang diakui PBB sebagai kredibel.

Rani

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *