
Ctzone – Kebiasaan merokok di kalangan mahasiswa bukanlah fenomena baru. Meski peringatan bahaya rokok terpampang jelas di setiap bungkusnya, faktanya masih banyak mahasiswa yang terjebak dalam lingkaran asap nikotin. Pertanyaannya, mengapa mereka pertama kali mencoba merokok? Dari mana kebiasaan itu bermula hingga akhirnya menjadi kecanduan?
Hasil wawancara dengan beberapa mahasiswa Universitas Dehasen Bengkulu menunjukkan bahwa alasan awal mereka merokok ternyata sederhana: sekadar rasa penasaran, coba-coba, dan pengaruh lingkungan. Namun, percobaan kecil itu justru membuka jalan menuju kebiasaan yang sulit dilepaskan.
Muhammad Azan Dwi Saputra, mahasiswa semester akhir Universitas Dehasen Bengkulu, mengaku mengenal rokok sejak masih di bangku kelas 6 SD. Awalnya, ia dan teman-temannya hanya iseng membakar ranting pohon gaharu lalu mengisapnya untuk melihat asap keluar. “Awalnya rasa penasaran, kok bisa keluar asap. Dari situ, seminggu kemudian baru coba rokok batangan. Itu pun beli ketengan, gantian sama teman-teman,” tuturnya, Lab ilmu komunikasi, Rabu (24/9/2025).
Meskipun kakaknya seorang perokok, Azan menegaskan keluarga bukan alasan utama ia mulai merokok. Justru, muncul dari diri sendiri dan teman-temannya. Namun, kebiasaan itu tidak langsung berlanjut. Ia sempat berhenti setelah lulus SD, baru mulai rutin kembali ketika duduk di bangku SMP. Seiring waktu, rokok berubah fungsi: dari coba-coba menjadi teman ketika stres. “Kadang kalau lagi pusing atau nggak baik-baik saja, ya ngerokok. Tapi sebenarnya itu cuma doktrinasi ke diri sendiri,” tambahnya.
Cerita berbeda datang dari Febrian Sholeh Daulay, mahasiswa semester 7 Ilmu Komunikasi. Ia mengaku awalnya tidak tertarik merokok, hingga suatu ketika saat magang ia sering disodori rokok oleh teman-temannya. “Sebab setiap hari lihat teman merokok, disodorin terus, akhirnya nyoba. Dari coba-coba jadi terbiasa,” ujarnya. Bagi Febrian, tekanan lingkungan lebih kuat daripada larangan keluarga. Ia merasa aneh jika tidak ikut menyalakan rokok di tengah tongkrongan. Dari sekadar sebatang sehari, kini ia bisa menghabiskan sebungkus dalam satu hari.
Fenomena ini menunjukkan bahwa merokok di kalangan mahasiswa bukan semata soal gaya hidup atau pencitraan diri agar terlihat keren. Justru, alasan yang paling dominan adalah rasa penasaran, ajakan teman, serta kebiasaan yang berulang hingga akhirnya menjadi kecanduan. Bahkan ketika dampak buruknya mulai dirasakan, mereka tetap sulit berhenti.
Kasus dua mahasiswa ini mencerminkan realitas yang lebih luas: generasi muda kerap memulai rokok dari hal sepele, lalu terjebak dalam kebiasaan jangka panjang. Lingkungan sosial, tekanan pertemanan, dan persepsi keliru tentang rokok sebagai penghilang stres memperkuat lingkar kecanduan tersebut.
Pada akhirnya, perjalanan dari “coba-coba” hingga “kecanduan” adalah cerita klasik yang berulang. Mahasiswa yang awalnya hanya ingin tahu, kini harus berhadapan dengan konsekuensi kesehatan, ekonomi, dan sosial. Pertanyaannya, sampai kapan lingkaran ini akan terus berulang di kalangan generasi muda?
Prisilia Oktaviani (22100017) Penulis
Arini Putri Pansilian (2210079) Reporter
Dinda Lestari (24100027) Editor
