Bertahan Hidup di Perantauan, Mahasiswa Raup Penghasilan dari TikTok

Hidup sebagai mahasiswa perantauan tidaklah mudah. Jauh dari keluarga, mereka harus menanggung biaya kos, kebutuhan kuliah, hingga ongkos hidup sehari-hari. Kondisi ini membuat banyak mahasiswa mencari cara kreatif untuk menambah penghasilan. Salah satunya dengan memanfaatkan TikTok.

Platform yang awalnya populer sebagai hiburan kini menjadi sumber penghasilan baru. Dari penelusuran, ada dua jalur utama yang digeluti mahasiswa: live streaming untuk memperoleh gift dari penonton, dan TikTok Affiliate yang memberi komisi dari penjualan produk.

Tia (20), mahasiswa semester 5 Jurusan Kebidanan Universitas Dehasen Bengkulu, mulai mencoba live TikTok sejak pertengahan 2023. Awalnya siaran langsungnya sepi penonton, namun kini ia bisa meraup Rp300 ribu hingga Rp1 juta per hari.

“Awalnya sepi banget, penonton sedikit, bahkan kadang tidak ada gift. Sempat bikin down, tapi lama-lama mulai ada hasil. Penghasilan ini sangat membantu semua biaya kuliah,” kata Tia.

Menurutnya, aktivitas live tidak mengganggu kuliah. “Bisa dilakukan kapan saja di waktu luang. Orang tua juga senang karena bisa meringankan beban mereka,” tambahnya.

Berbeda dengan Tia, Yusvita (21) menekuni TikTok Affiliate. Ia mengaku tertarik setelah akun FYP miliknya dipenuhi konten affiliate. Meski hasilnya tidak menentu, penghasilan ini cukup membantu.

“Awalnya coba-coba, tapi lumayan bisa untuk biaya kuliah, bahkan PKL,” ujarnya. Ia pernah mendapat komisi Rp13 ribu per produk dan sekali pencairan mencapai Rp100 ribuan. Yusvita sempat ingin berhenti karena keterbatasan alat, namun kembali bersemangat setelah mendapat dukungan dari pacarnya. “Harapan saya akun bisa naik dan makin banyak yang pesan lewat konten saya,” tambahnya.

Kisah Tia dan Yusvita menunjukkan wajah baru perjuangan mahasiswa di perantauan. TikTok kini menjadi ruang kreatif sekaligus penyelamat finansial. Meski berpotensi membantu biaya kuliah, tantangan tetap ada, mulai dari penghasilan yang tidak stabil hingga risiko kecanduan media sosial.

Fenomena ini menegaskan bahwa mahasiswa semakin adaptif di era digital. Namun, pertanyaan yang muncul: sejauh mana platform seperti TikTok bisa menjadi solusi berkelanjutan bagi mahasiswa perantauan?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *