
Ctzone -Fenomena mahasiswa perantauan yang memanfaatkan TikTok sebagai sumber penghasilan semakin marak. Investigasi lapangan menunjukkan bahwa aktivitas seperti live streaming dan TikTok Affiliate kini menjadi strategi bertahan hidup bagi banyak mahasiswa yang tinggal di kos-kosan.
Sejumlah mahasiswa mengaku rutin melakukan siaran langsung pada malam hari, memanfaatkan kamar kos sebagai studio sederhana. Dengan peralatan minim seperti ponsel dan ring light kecil, mereka tetap berusaha konsisten demi mendapatkan gift atau komisi penjualan.
Tia (20), salah satu mahasiswa perantau, mengatakan aktivitas tersebut kerap dilakukan setelah menyelesaikan tugas kuliah. “Pendapatannya tidak selalu stabil, tapi saya anggap proses. Yang penting konsisten,” ujarnya.
Sementara itu, Yusvita (21) yang menekuni TikTok Affiliate menyampaikan bahwa aktivitas tersebut membantunya memahami dunia digital marketing. “Saya belajar strategi konten, membaca tren, dan memilih produk yang relevan,” katanya.

Dosen Universitas Dehasen, Siti Hanila, SE, MM, menilai bahwa fenomena ini mencerminkan munculnya bentuk ekonomi informal baru di kalangan mahasiswa. Ia mengatakan bahwa TikTok memberi ruang bagi mahasiswa untuk memonetisasi kreativitas tanpa membutuhkan modal besar. “Platform ini membuka peluang ekonomi bagi anak muda, terutama mahasiswa perantau yang harus mandiri,” jelasnya.
Namun ia mengingatkan bahwa peluang tersebut juga membawa tantangan. Tekanan untuk tampil konsisten, mengikuti tren, dan menjaga interaksi dengan penonton dapat menimbulkan beban psikologis. “Pendapatan yang tidak stabil dan tuntutan performa bisa menyebabkan kelelahan jika tidak dikelola dengan baik,” tambahnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial kini tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga penopang ekonomi mahasiswa perantau di tengah tingginya biaya hidup. Namun kurangnya stabilitas pendapatan dan tekanan psikologis menjadi tantangan yang masih perlu mendapat perhatian.
