
Ctzone – Fenomena mahasiswa perantauan yang memanfaatkan TikTok sebagai sumber penghasilan terus berkembang. Setelah sebelumnya ditemukan sejumlah mahasiswa memanfaatkan fitur live streaming dan TikTok Affiliate, investigasi lanjutan ini menemukan bahwa aktivitas tersebut kini menjadi bagian penting dari strategi bertahan hidup di perantauan.
Dari hasil penelusuran lebih dalam, aktivitas siaran langsung kerap dilakukan di kamar kos sederhana. Peralatan yang digunakan pun terbatas, seperti ponsel, ring light kecil, dan koneksi internet seadanya. Namun, keterbatasan itu tak menyurutkan semangat mahasiswa untuk tetap kreatif dan produktif.
Tia, yang sempat menjadi narasumber pertama, mengaku kini sudah terbiasa mengatur waktu antara kuliah dan aktivitas di TikTok. “Saya biasanya live malam setelah semua tugas kuliah selesai. Kadang sampai larut, tapi saya tetap usahakan tidak mengganggu kegiatan kampus,” ujarnya sambil tersenyum.
Ia juga menjelaskan bahwa penghasilannya memang tidak selalu stabil. “Ada hari-hari sepi, bahkan tidak dapat gift sama sekali. Tapi saya anggap itu proses. Yang penting konsisten, jaga interaksi, dan jangan menyerah,” katanya. Bagi Tia, TikTok bukan sekadar hiburan atau tempat mencari uang, tapi juga wadah untuk belajar percaya diri dan melatih komunikasi.
Sementara itu, Yusvita yang menekuni TikTok Affiliate, mulai memandang aktivitasnya bukan hanya sebagai pekerjaan sampingan, melainkan peluang untuk memahami dunia digital marketing. “Dulu saya hanya fokus pada hasil, tapi sekarang saya belajar soal strategi. Bagaimana membuat konten menarik, memilih produk yang relevan, dan membaca tren yang lagi ramai di TikTok,” ujarnya.
Ia menambahkan, dukungan dari lingkungan sekitar juga berperan besar. “Pernah ingin berhenti karena alat terbatas dan hasil kecil. Tapi setelah lihat teman-teman lain juga berjuang, saya jadi semangat lagi. Saya sadar, semua butuh proses,” tutur Yusvita.
Dari hasil penelusuran lanjutan, banyak mahasiswa perantauan di Bengkulu kini menggunakan media sosial bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga sebagai cara bertahan di tengah tuntutan biaya hidup. Mereka memanfaatkan waktu luang setelah kuliah untuk membuat konten, berjualan produk, hingga membangun personal branding.
Namun, tak sedikit juga yang mengeluhkan tekanan psikologis akibat persaingan ketat di platform digital. Tia mengaku sempat merasa stres ketika jumlah penontonnya menurun drastis. “Kadang saya mikir, apa konten saya jelek, atau orang sudah bosan. Tapi saya belajar untuk tidak terlalu terpengaruh angka. Fokus saja sama proses dan niat awal,” jelasnya.
Yusvita pun mengakui bahwa menjaga keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata bukan hal mudah. “Kadang capek banget. Siang kuliah, malam buat konten. Tapi kalau ingat tujuannya untuk bantu biaya kuliah dan orang tua, semua rasa lelah hilang,” katanya.
Peristiwa ini menunjukkan bagaimana media sosial mulai memengaruhi pola pikir dan perilaku publik, terutama di kalangan muda. TikTok tidak hanya menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mencari penghasilan, tetapi juga membentuk tren baru dalam gaya hidup dan cara pandang terhadap kerja.
