
Ctzone – TikTok kini bukan sekadar ruang hiburan bagi mahasiswa perantauan. Platform tersebut berubah menjadi sumber pendapatan alternatif di tengah meningkatnya biaya hidup dan kebutuhan kuliah. Hasil investigasi menunjukkan bahwa meski memberi peluang finansial, kegiatan monetisasi di TikTok membawa tantangan tersendiri, mulai dari pendapatan yang fluktuatif hingga tekanan mental.
Tekanan ekonomi menjadi faktor utama mahasiswa mencoba peruntungan di TikTok. Kenaikan biaya kos, transportasi, dan kebutuhan akademik membuat sebagian mahasiswa mencari sumber penghasilan yang fleksibel dan tidak mengganggu jadwal kuliah.
Tia (20), mahasiswa perantauan asal Curup, mengaku mulai aktif live dan membuat konten TikTok karena kebutuhan mendesak.
“Uang kiriman orang tua hanya cukup untuk bayar kos dan sedikit makan. Kalau tidak cari uang sendiri, saya bisa kesulitan lanjut kuliah. TikTok jadi pilihan karena bisa dilakukan kapan saja,” ujarnya.
Tia menambahkan bahwa meski tidak selalu mendapatkan pendapatan besar, pemasukan dari TikTok membantu menutup biaya harian.
Investigasi menemukan bahwa banyak mahasiswa mulai terjun setelah sering melihat konten bermuatan “penghasilan jutaan dari TikTok” di beranda. Algoritma TikTok dinilai berperan besar dalam membentuk persepsi bahwa meraih pendapatan besar adalah sesuatu yang mudah.
Namun, menurut hasil penelusuran, realitas tersebut berbeda jauh di lapangan. Sebagian besar mahasiswa justru menghadapi persaingan tinggi dan jam kerja fleksibel yang berujung pada kelelahan.
Pendapatan dari live streaming dan TikTok Affiliate tidak bersifat pasti. Kenaikan dan penurunan jumlah penonton, perubahan tren, dan kebijakan platform membuat penghasilan mahasiswa tidak dapat diprediksi.
Yusvita (21), mahasiswa yang menekuni TikTok Affiliate, mengungkapkan bahwa penghasilannya sangat bergantung pada performa konten.
“Orang-orang bikin kelihatannya mudah. Padahal sehari bisa cuma dapat belasan ribu. Pernah konten saya ramai, tapi itu jarang sekali,” katanya.
Fenomena mahasiswa bergantung pada TikTok untuk memenuhi kebutuhan hidup mengindikasikan adanya celah dalam sistem pendukung finansial bagi mahasiswa perantauan. Meski TikTok memberikan peluang, platform ini bukan solusi jangka panjang karena tingginya ketidakpastian dan risiko psikologis yang menyertainya.
Hasil investigasi menunjukkan bahwa TikTok menjadi ruang bertahan hidup bagi mahasiswa perantauan, namun bukan tanpa risiko. Tekanan ekonomi menjadi pendorong utama, sementara algoritma dan narasi kesuksesan instan mempercepat keputusan mereka untuk terjun.
Di balik peluang finansial yang ditawarkan, mahasiswa harus berhadapan dengan pendapatan yang fluktuatif, tekanan mental, dan potensi interaksi negatif. Fenomena ini menjadi gambaran nyata tantangan ekonomi mahasiswa di era digital.
