
Ctzone-Dalam sebuah organisasi, terutama di lingkungan kampus, rapat bukan hanya sekadar forum diskusi. Ia adalah ruang untuk mengarahkan gerak langkah, menyatukan visi, dan membangun budaya kerja yang profesional. Hal inilah yang menjadi fokus utama UKM Seni Universitas Dehasen Bengkulu di bawah kepemimpinan Ketua Umumnya, Rahmat Renaldi.
Di tengah dinamika organisasi seni yang penuh kreativitas dan ide-ide liar, ketegasan seorang pemimpin sering kali menjadi penentu apakah sebuah rapat berjalan efektif atau justru melebar tanpa arah. Pada sebuah rapat internal yang digelar baru-baru ini, atmosfer keseriusan langsung terasa sejak awal. Anggota hadir tepat waktu, agenda tertata rapi, dan diskusi berlangsung terstruktur sebuah perubahan positif yang banyak diakui oleh para pengurus UKM Seni.
Meski UKM Seni dikenal sebagai ruang ekspresi, bukan berarti rapat harus berlangsung bebas tanpa batas. Justru di sanalah tantangannya menyatukan kreativitas dengan kedisiplinan. Dalam rapat tersebut, setiap anggota diberi kesempatan menyampaikan ide, namun tetap dalam koridor waktu yang telah ditentukan.
Rahmat, sang Ketua Umum, memimpin jalannya diskusi dengan gaya yang tegas namun tetap komunikatif. Jika ada pembahasan yang melenceng, ia dengan sigap mengembalikannya ke jalur yang benar tanpa memotong semangat anggota yang sedang berpendapat.
Di sela-sela rapat, kami berkesempatan melakukan wawancara singkat dengan Rahmat Renaldi, sosok yang belakangan dikenal karena ketegasan sekaligus keteladanannya dalam memimpin UKM Seni.
“Ketegasan itu bukan berarti keras atau memaksa bagi saya, tegas itu jelas arahannya, konsisten dengan aturan yang disepakati, dan memastikan semua anggota merasa dihargai. Rapat harus efektif, karena itu menyangkut waktu dan energi banyak orang.” Ujar Rahmat.
Rahmat juga mengatakan, bagaimana ia bisa menjalankan rapat agara tetap kondusif,
“Saya selalu mulai dengan briefing singkat tentang tujuan rapat. Lalu saya tekankan bahwa semua punya hak bicara, tapi tetap harus tertib. Selain itu, saya usahakan raut wajah saya tetap ramah meski tegas. Pemimpin itu harus bisa jadi penyeimbang.”
Dengan gaya kepemimpinan yang seperti ini, tidak heran jika banyak anggota merasa nyaman bekerja bersama Rahmat. Ketegasannya tidak menghadirkan tekanan, tetapi justru memberikan rasa aman dan kepastian arah. Anggota menjadi lebih disiplin, lebih bertanggung jawab, dan lebih memahami pentingnya profesionalitas meski berada dalam lingkungan seni.
Pada akhir rapat, terlihat jelas bagaimana keputusan yang diambil menjadi lebih matang karena proses diskusi berlangsung tertata. Tidak ada suara yang terabaikan, namun tidak pula ada waktu yang terbuang percuma.
Penulis: Oktacanss
