
Ctzone – Kampus Universitas Dehasen (UNIVED) Bengkulu menjadi salah satu lokasi dengan tingkat konsumsi minuman manis yang tinggi di kalangan mahasiswa. Berdasarkan hasil pemantauan selama dua minggu di area sekitar kampus dan kantin internal, ditemukan bahwa minuman berpemanis menjadi produk yang paling sering dibeli mahasiswa, terutama pada jam istirahat kuliah dan menjelang sore hari. Penjualan minuman manis di minimarket sekitar kampus rata-rata mencapai 250–300 botol per hari, meningkat hampir dua kali lipat ketika terdapat promo bundling.
Sementara itu, tiga gerai minuman yang berada dalam radius 300–500 meter dari kampus mencatat penjualan harian 150–200 gelas kopi susu atau minuman boba, sebagian besar berasal dari mahasiswa. Temuan ini beririsan dengan data nasional. Riskesdas 2018 mencatat peningkatan konsumsi minuman manis dari 40% (2013) menjadi 58% (2018) pada kelompok usia 15–24 tahun. Kelompok usia mahasiswa juga menjadi penyumbang terbesar konsumsi gula tambahan harian menurut laporan BPOM 2022, di mana 61% mahasiswa tidak membaca label gizi dan berisiko mengonsumsi gula melebihi batas aman. Di UNIVED, sebagian mahasiswa menyatakan konsumsi minuman berpemanis dilakukan untuk mengurangi rasa kantuk dan menambah energi saat menghadiri kelas pagi.
Namun sebagian besar mahasiswa yang diwawancarai mengaku tidak mengetahui bahwa satu gelas kopi susu gula aren mengandung 18–28 gram gula, sedangkan minuman boba dapat mencapai 38–54 gram, melebihi batas yang direkomendasikan WHO, yaitu 25 gram gula tambahan per hari. Dari sisi kesehatan, petugas pelayanan kesehatan kampus mencatat adanya kenaikan kunjungan mahasiswa dengan keluhan seperti peningkatan berat badan, mudah lelah, sakit kepala, serta masalah pencernaan. Dalam tiga tahun terakhir, keluhan yang berkaitan dengan pola konsumsi gula disebut mengalami peningkatan signifikan. Kondisi ini sejalan dengan data Kementerian Kesehatan 2021 yang menyebutkan bahwa kelompok usia 18–25 tahun menyumbang 35% kasus obesitas perkotaan.
Jika fenomena ini tidak diimbangi dengan edukasi gizi dan pembatasan konsumsi minuman berpemanis, para mahasiswa dikhawatirkan akan menghadapi risiko kesehatan jangka panjang seperti obesitas, gangguan metabolik, dan peningkatan potensi diabetes di usia muda. Penelitian global yang dirilis WHO menunjukkan bahwa konsumsi gula berlebih meningkatkan risiko obesitas remaja hingga 34%. Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat program khusus dari pihak kampus yang secara spesifik mengatur konsumsi gula atau memberikan edukasi terkait minuman berpemanis. Namun pihak pelayanan kesehatan UNIVED menyatakan terbuka untuk melakukan sosialisasi jika diperlukan.
