
Ctzone – Di tengah meningkatnya biaya hidup mahasiswa perantau, platform media sosial kini menjadi ladang baru untuk mencari penghasilan. Dua mahasiswa asal Lubuklinggau, Sumatra Selatan, membuktikan bahwa TikTok bukan hanya tempat hiburan, tetapi juga ruang untuk meraih kemandirian finansial tanpa harus meninggalkan bangku kuliah.
Tia (20), mahasiswa Universitas Dehasen Bengkulu, memutuskan merantau ke Bengkulu untuk mencari pengalaman baru sekaligus menantang dirinya hidup jauh dari keluarga. Meski kondisi keuangannya stabil, Tia tetap tertarik mencoba menghasilkan uang lewat siaran live di TikTok.
“Awalnya saya sering lihat orang lain live di TikTok. Dari situ saya tertarik, apalagi banyak teman yang sudah mencoba dan merasakan manfaatnya,” ungkapnya.
Menurut Tia, alasan utama memilih TikTok adalah kemudahan akses dan fleksibilitas waktu. Aktivitas live bisa dilakukan di sela-sela jadwal kuliah tanpa mengganggu perkuliahan. Dukungan penuh dari keluarga membuatnya semakin percaya diri.
Namun, perjalanan Tia tidak selalu mulus. Siaran pertamanya terasa kaku dan penontonnya sedikit. “Pernah kepikiran berhenti karena penonton sedikit dan gift tidak bisa diprediksi,” katanya.
Meski begitu, konsistensi berbuah manis. Kini, Tia mampu meraup penghasilan sekitar Rp3 juta hingga Rp6 juta per bulan, cukup untuk menutup biaya kuliah dan kebutuhan sehari-hari.
“Sekarang saya sudah tidak lagi meminta uang belanja ke orang tua,” ujarnya bangga. Meski demikian, Tia menegaskan pekerjaan ini tidak untuk jangka panjang, melainkan sebagai pengalaman dan tambahan penghasilan selama kuliah.
Berbeda dengan Tia, Yusvitasari (21), mahasiswa Universitas Dehasen Bengkulu, memilih jalur TikTok affiliate. Latar belakang keluarga menengah ke bawah membuatnya termotivasi mencari cara untuk membantu perekonomian selama merantau.
“Saya sering lihat orang berjualan lewat TikTok. Dari situ saya tertarik ikut juga,” katanya. Yusvitasari bergabung sebagai affiliate sejak 2023 dan mulai rutin berjualan pada 2024.
Awal perjalanannya penuh tantangan. Ia kekurangan properti foto produk dan belum menerima sampel dari toko. “Pernah rasanya mau berhenti karena produk yang saya jual belum ada pembeli,” ungkapnya. Meski begitu, Yusvitasari tetap bertahan. Kini, ia memperoleh komisi sekitar Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per bulan—jumlah yang menurutnya cukup untuk kebutuhan kecil dan pengalaman bisnis online.
Kisah Tia dan Yusvitasari menggambarkan fenomena baru di kalangan mahasiswa perantau: memanfaatkan media sosial sebagai sarana mencari penghasilan tanpa harus bekerja konvensional. Platform seperti TikTok menawarkan peluang besar karena mudah diakses, modal awal relatif kecil, dan jam kerja fleksibel.
