
Ctzone – Menjadi mahasiswa bukan hanya tentang perkuliahan, tugas, dan skripsi, tetapi juga tentang memasuki dunia baru yang penuh tantangan, termasuk tantangan finansial. Salah satu faktor penting yang memengaruhi kondisi ekonomi mahasiswa adalah tempat tinggal, apakah mereka tinggal di kos atau bersama orang tua. Keduanya memiliki kelebihan dan tantangan masing-masing dalam hal pengelolaan keuangan, kemandirian, dan gaya hidup.
Sebagian besar mahasiswa mengandalkan kiriman bulanan dari orang tua. Namun, tidak sedikit juga yang harus mencari penghasilan tambahan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, seperti makan, transportasi, kuota internet, hingga fotokopi materi kuliah.
Biaya hidup di kota besar bisa sangat memberatkan, terutama jika tidak diimbangi dengan manajemen keuangan yang baik. Tantangan lain muncul saat dana bulanan habis sebelum waktunya, sehingga harus “menghemat” sampai akhir bulan, sebuah fenomena yang tidak asing di kalangan mahasiswa.
Dinda, salah satu mahasiswi Universitas Dehasen Kota Bengkulu yang tinggal di kos, mengatakan bahwa perkuliahan juga merupakan ajang belajar tentang kemandirian, termasuk dalam hal mengatur ekonomi pribadi. Mulai dari biaya sewa, makan, transportasi, hingga kebutuhan akademik dan sosial, semua harus dikelola dengan anggaran yang terbatas.
“Karena ini pertama kali saya ngekos, tantangan terbesarnya adalah mengatur keuangan mulai dari bayar listrik, sewa, dan kebutuhan lainnya. Saya sering bertanya kepada kedua orang tua agar bisa belajar mengelola keuangan. Akhirnya saya berhasil meminimalkan pengeluaran dan mengatur mana yang penting dan mana yang tidak. Agar lebih hemat, saya berbelanja kebutuhan sehari-hari di pasar tradisional karena lebih murah dan bisa membeli sedikit-sedikit, serta lebih sering memasak daripada membeli makanan jadi,” ujar Dinda.
Tinggal bersama orang tua juga memiliki banyak keuntungan dari sisi keuangan. Muhammad Rafli Yuliansa, salah satu mahasiswa yang kuliah sambil bekerja dan tinggal bersama orang tuanya, mengungkapkan bahwa meskipun tinggal di rumah sendiri, mahasiswa tetap perlu melatih kemandirian, termasuk dalam hal finansial. Menurutnya, uang saku yang diberikan orang tua sering kali kurang, sehingga ia memutuskan untuk bekerja sambil kuliah.
“Keuntungan saya tinggal bersama orang tua adalah tidak perlu membayar sewa kos atau kontrakan. Beberapa kebutuhan seperti makan, cucian, dan kebersihan rumah juga terbantu oleh orang tua. Meskipun bekerja dan kuliah, saya bisa membagi waktu dengan membuat jadwal antara kuliah dan pekerjaan. Saya kuliah dari jam 8 pagi hingga 4 sore, lalu bekerja dari jam 5 sore hingga 9 malam. Biasanya kuliah tidak selalu sampai sore atau dimulai dari pagi, jadi masih bisa menyesuaikan. Setelah bekerja, saya belajar mengatur keuangan dengan baik. Dulu, sebelum bekerja, saya sering kehabisan uang di pertengahan bulan karena suka foya-foya. Dari situ saya sadar bahwa mengatur keuangan itu sangat penting,” ujar Rafli.
Dapat disimpulkan bahwa baik mahasiswa yang tinggal di kos maupun yang tinggal bersama orang tua sama-sama menghadapi tantangan dalam kehidupannya. Mahasiswa kos lebih terlatih mandiri dalam mengatur keuangan, transportasi, dan kebutuhan sehari-hari. Sementara itu, mahasiswa yang tinggal bersama orang tua tetap berusaha mandiri dengan bekerja untuk menambah uang saku. Keduanya menunjukkan bahwa kehidupan mahasiswa selalu menjadi proses belajar, baik dalam menuntut ilmu maupun dalam membentuk kemandirian.
