Potret Pendidikan Di Daerah Terpinggirkan

Ctzone – Pendidikan seharusnya menjadi hak dasar setiap anak bangsa. Namun, di banyak daerah tertinggal, realitasnya jauh dari harapan. Siswa siwa yang bersemangat menuntut ilmu justru terbentur berbagai hambatan. Suara mereka, meskipun sering luput dari perhatian, mencerminkan betapa pelitnya persoalan akses Pendidikan di pelosok negri.

Keluhan siswa mulai dari fasilitas hingga rasa putus asa, ruang kelas yang tak layak membuat banyak siswa mengeluh kondisi ruang kelas yang reyot, bocor saat hujan, hingga minim penerangan. “ Kalau hujan deras, kami harus berhenti belajar karena air biasanya masuk ke kelas,” ungkap Yeza seorang siswa di sekolah teringgal. Situasi ini membuat konsentrasi belajar terganggu dan menurunkan semangat.

Kurangnya guru dan kualitas pengajar merupakan salah satu keluhan terbesar mereka. Beberapa sekolah hanya memiliki beberpa tenaga pengajar untuk semua kelas.

 Buku dan sarana belajar yang terbatas siswa juga mengeluhkan sulithya memperoleh buku Pelajaran buku Pelajaran dan alat tulis. Buku paket sering harus dipakai bersama, sementara akses internet kurang memadai. “ Kami mau belajar lewat internet, tapi di sini sinyal kurang memadai,” ujar salah satu guru di SD terpencil.

Perasaan minder dan terpinggirkan. selain hambatan fisik, banyak siswa merasa minder karena .menyadari kualitas Pendidikan mereka tertinggal jauh dibandingkan teman sebaya di kota.

Keluhan keluhan tersebut bukan sekedar cerita ringan. Tekanan akibat keterbatasan membuat Sebagian siswa kehilangan motivasi, bahkan memilih putus sekolah. Perasaan tidak di perhatikan negara menambah luka psikologis anak anak yang seharusnya mendapatkan kesempatan belajar yang setara.

Meskipun begitu, dibalik semua keluhan, siswa siswa di sekolah tertinggal tetap menyimpan harpan besar. Mereka ingin sekolah lebih layak, guru lebih banyak hadir, serta akses buku dan teknologi bisa terbuka. Suara mereka merupakan alarm bagi pemerintah, Masyarakat, dan semua pihak yang peduli akan masa depan Pendidikan Indonesia.

TIARA DESRI MEISENA (edit)
AZIZAH AMELIA KARTIKA SITORUS (penulis Utama)
JOUSE MEDIANSYAH ( reporter lapangan)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *