
Ctzone – Hasil investigasi menunjukkan adanya pola peningkatan gangguan kesehatan di kalangan mahasiswa Universitas Dehasen Bengkulu yang diduga kuat berkaitan dengan konsumsi gula berlebih. Dalam dua minggu pemantauan lapangan, tim menemukan banyak mahasiswa yang mulai mengalami keluhan fisik berulang. Keluhan tersebut tidak hanya bersifat ringan, tetapi muncul secara konsisten dan semakin sering. Gejala yang paling banyak dilaporkan antara lain rasa mudah lelah meskipun tidak melakukan aktivitas berat, sulit fokus saat mengikuti mata kuliah, sakit kepala mendadak, serta peningkatan berat badan dalam waktu singkat. Sejumlah mahasiswa bahkan mengaku mengalami penurunan performa akademik karena tidak mampu mempertahankan konsentrasi selama perkuliahan berlangsung.
Temuan ini diperkuat oleh wawancara dengan seorang tenaga medis dari Puskesmas Sawah Lebar yang menyatakan bahwa pola konsumsi minuman manis mahasiswa saat ini berada pada tingkat yang mengkhawatirkan. Ia menjelaskan bahwa efek gula tidak selalu terasa segera, tetapi bekerja secara bertahap melalui lonjakan dan penurunan drastis kadar gula darah. “Lonjakan gula darah itu efeknya tidak langsung. Tapi kalau dikonsumsi setiap hari, mahasiswa bisa mengalami prediabetes sebelum usia 25 tahun,” ujarnya mengingatkan. Menurutnya, kebiasaan mengonsumsi kopi susu kekinian, es teh manis, dan minuman energi menjadi penyebab utama mahasiswa mengalami gejala kelelahan kronis yang sering dianggap sebagai akibat kurang tidur atau stres akademik.

Selain faktor medis, kondisi lingkungan kampus juga memiliki peran besar dalam meningkatnya konsumsi gula. Banyak mahasiswa mengungkapkan bahwa mereka membeli minuman manis bukan karena kebutuhan, melainkan karena harga yang terjangkau serta ketersediaannya yang sangat mudah. Hampir di setiap sudut kampus, mulai dari kantin hingga pedagang kaki lima, tersedia berbagai pilihan minuman manis dengan harga antara Rp8.000 hingga Rp15.000. Situasi ini membuat minuman manis menjadi pilihan pertama mahasiswa untuk menghilangkan haus, meningkatkan mood, atau sekadar menemani kegiatan belajar.
Ketiadaan kebijakan dari pihak kampus terkait pembatasan penjualan minuman tinggi gula memperparah keadaan. Hingga kini belum ada regulasi, himbauan resmi, ataupun kampanye kesehatan yang membahas dampak konsumsi gula berlebih. Kondisi ini membuat mahasiswa tidak memiliki kesadaran yang cukup mengenai bahaya jangka panjang konsumsi gula. Tanpa adanya upaya edukasi, para mahasiswa cenderung menganggap kebiasaan membeli minuman manis setiap hari sebagai hal yang normal dan tidak berbahaya.
Sejumlah ahli kesehatan menilai bahwa situasi ini dapat menjadi ancaman serius bila tidak ditangani sejak dini. Konsumsi gula berlebih dalam jangka panjang berpotensi memicu berbagai penyakit tidak menular seperti obesitas, gangguan metabolik, resistensi insulin, hingga prediabetes di usia yang relatif muda. Untuk mencegah risiko tersebut, para ahli menyarankan agar kampus mulai mengambil langkah konkret, seperti menyediakan edukasi gizi melalui seminar atau poster, membatasi peredaran minuman tinggi gula, serta menyediakan alternatif minuman sehat seperti air mineral, teh tanpa gula, dan infused water di kantin kampus.
Tanpa intervensi, pola konsumsi minuman manis yang saat ini dianggap sebagai kebiasaan sehari-hari dapat berubah menjadi ancaman kesehatan jangka panjang bagi mahasiswa Universitas Dehasen Bengkulu. Situasi ini bukan hanya menyangkut kesehatan individu, tetapi juga menyangkut kualitas akademik dan produktivitas mahasiswa secara keseluruhan.
