
Tren thrifting atau membeli pakaian bekas semakin diminati oleh mahasiswa di Kota Bengkulu sebagai alternatif berbelanja yang lebih hemat namun tetap mengikuti gaya fashion masa kini.
Fenomena thrifting berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, terutama di kalangan anak muda yang ingin tampil stylish tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Banyak anak muda kini lebih memilih berbelanja di toko thrift atau pasar pakaian bekas dibandingkan toko pakaian baru.
Haris(20), seorang mahasiswa di Bengkulu, mengaku lebih sering membeli pakaian di thrift shop karena harganya yang terjangkau.
“Harganya jauh lebih murah, tapi kualitasnya masih bagus. Kadang malah dapat brand terkenal,” ujarnya Haris.
Menurut Haris, thrifting juga memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan berbelanja di toko biasa. Ia harus lebih teliti dalam memilih barang, mulai dari kondisi hingga ukuran, namun justru hal tersebut menjadi daya tarik tersendiri.
Hal serupa juga disampaikan oleh Radit (22), mahasiswa yang mulai tertarik thrifting sejak satu tahun terakhir. Ia mengatakan bahwa kebiasaannya itu berawal dari ajakan teman.
“Awalnya cuma ikut-ikutan teman, tapi lama-lama jadi hobi. Seru aja karena kita bisa dapat barang unik yang nggak pasaran,” ujarnya.
Selain faktor harga, tren thrifting juga dipengaruhi oleh media sosial. Banyak konten kreator yang membagikan tips thrifting serta hasil padu padan pakaian bekas yang tetap terlihat menarik. Hal ini mendorong anak muda untuk mencoba gaya berpakaian yang lebih kreatif.
Tidak hanya itu, sebagian anak muda juga mulai menyadari dampak positif thrifting terhadap lingkungan. Dengan membeli pakaian bekas, mereka turut mengurangi limbah tekstil yang semakin meningkat.
Namun, di balik popularitasnya, thrifting juga memiliki tantangan tersendiri. Kualitas barang yang tidak selalu sama membuat pembeli harus lebih selektif. Selain itu, aspek kebersihan juga menjadi perhatian penting sebelum pakaian digunakan.
Beberapa orang menilai bahwa thrifting merupakan pilihan yang tepat untuk menghemat pengeluaran tanpa mengurangi gaya berpakaian.
“Menurut saya ini solusi banget buat mahasiswa. Bisa tetap tampil bagus tanpa harus mahal,” ujar Haris.
Meski demikian, anak muda juga diimbau untuk tetap memperhatikan kualitas dan kebersihan pakaian sebelum membeli agar tetap nyaman dan aman digunakan.
Di sisi lain, tren ini juga membuka peluang usaha baru. Beberapa anak muda bahkan mulai menjual kembali pakaian thrift melalui media sosial sebagai bentuk bisnis kecil-kecilan.
Meningkatnya tren thrifting di kalangan anak muda menunjukkan perubahan gaya hidup yang lebih hemat, kreatif, dan sadar lingkungan. Selain membantu mengurangi pengeluaran, aktivitas ini juga menjadi sarana bagi anak muda untuk mengekspresikan diri melalui gaya berpakaian yang unik dan berbeda.
bye : Ganesha
