
Ctzone – Fenomena mahasiswa perantau yang memanfaatkan TikTok sebagai sumber pendapatan tidak hanya menarik perhatian kalangan akademisi, tetapi juga masyarakat sekitar. Hasil investigasi lapangan menunjukkan bahwa warga yang tinggal di sekitar area kos turut menyaksikan perubahan perilaku mahasiswa dalam mencari penghasilan selama beberapa tahun terakhir.
Salah satu warga, Ibu enda (27), pedagang makanan yang tinggal dekat kawasan kos mahasiswa, mengaku sering melihat aktivitas mahasiswa hingga larut malam. Ia mengatakan bahwa belakangan ini kamar kos bukan hanya menjadi tempat istirahat, tetapi berubah menjadi ruang kreatif sekaligus “ruang kerja digital.”
“Saya sering lihat mereka live tengah malam. Lampu ring light terang dari jendela kos,” ujarnya. “Awalnya saya pikir mereka belajar atau video call, tapi ternyata untuk cari uang. Banyak mahasiswa sekarang kerja online.”
Dalam wawancara tersebut, Ibu Enda mengungkapkan bahwa banyak mahasiswa bercerita kepadanya saat membeli makan malam. Mereka mengaku hasil gift dari live streaming maupun komisi TikTok Affiliate tidak menentu, tetapi setidaknya membantu biaya harian.
“Kadang mereka cerita ke saya, sehari bisa dapat puluhan ribu, kadang tidak dapat sama sekali. Tapi bagi anak kos, itu tetap membantu untuk makan atau bayar kuota,” katanya.
Menurutnya, situasi ini muncul karena tekanan biaya hidup yang semakin tinggi bagi mahasiswa perantau. Harga kos, transportasi, dan kebutuhan kuliah sering kali membuat mereka harus mencari pemasukan tambahan.
“Saya kasihan, tapi juga bangga. Anak-anak sekarang kreatif. Mereka tidak hanya bergantung pada kiriman orang tua,” tambahnya.
Dari hasil pengamatan warga, aktivitas digital ini ikut mengubah pola sosial mahasiswa. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di kamar untuk membuat konten, sehingga jarang terlihat berkumpul di warung atau area umum seperti sebelumnya.
“Dulu mereka suka nongkrong sambil makan atau cerita-cerita. Sekarang banyak yang buru-buru pulang ke kos karena harus live. Ada yang mulai jam 9 malam sampai hampir jam 1 pagi,” jelas Ibu Enda.
Ia menilai perubahan ini sebagai sesuatu yang wajar, tetapi tetap berharap mahasiswa tidak kehilangan keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan sosial.
Sebagai warga yang sering berinteraksi dengan mahasiswa perantau, Ibu Enda mengatakan bahwa masyarakat sebenarnya mendukung kreativitas tersebut. Namun beberapa warga juga khawatir jika aktivitas live streaming yang dilakukan hingga larut malam berdampak pada kesehatan dan akademik mahasiswa.
“Kalau mereka terlalu capek, nanti kuliahnya terbengkalai. Kadang saya lihat wajah mereka lesu pas pagi-pagi beli sarapan,” ungkapnya.
Menurutnya, mahasiswa perlu mengatur waktu dengan baik agar aktivitas mencari uang tidak mengorbankan pendidikan.
Wawancara dengan masyarakat menunjukkan bahwa fenomena mahasiswa yang memanfaatkan TikTok sebagai sumber penghasilan sudah menjadi bagian dari kehidupan sosial di lingkungan kos. Warga melihat perubahan nyata dalam pola hidup mahasiswa: lebih mandiri secara finansial, tetapi juga lebih tertekan dan kurang waktu untuk bersosialisasi.
