Budaya Lokal Terpinggirkan, Anak Muda Berjuang Mempertahankan Tradisi di Era

Ctzone – Di tengah derasnya arus digital, banyak generasi muda kini mulai melupakan budaya lokal Musik tradisional, tarian, bahasa daerah, dan kerajinan tangan semakin jarang diperhatikan.
Namun, sejumlah komunitas dan pelajar berupaya melestarikan tradisi melalui media sosial,
workshop, dan program edukasi budaya, agar warisan nenek moyang tetap hidup di era
modern yang serba digital.

Apa yang terjadi?

Budaya lokal yang dulu menjadi identitas masyarakat kini semakin tersisih oleh arus
globalisasi dan hiburan digital. Anak muda lebih banyak menghabiskan waktu menonton
video online, bermain game, dan mengikuti tren global, sementara aktivitas budaya
tradisional mulai dilupakan. Fenomena ini terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia,
terutama di kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Siapa yang terlibat?

Komunitas pelestari budaya, sekolah, universitas, dan mahasiswa aktif mengadakan kegiatan
untuk mengenalkan budaya kepada anak muda. Salah satu contohnya adalah Komunitas
Pelestari Tari Nusantara di Jakarta, yang rutin mengadakan workshop tarian tradisional,
lomba menari, dan pertunjukan budaya untuk pelajar. Selain itu, beberapa mahasiswa juga
memanfaatkan media sosial untuk membuat konten edukasi budaya yang menarik.

Kapan terjadi?

Program pelestarian budaya ini terus digalakkan sepanjang tahun 2026. Kegiatan biasanya
meningkat saat liburan sekolah, peringatan hari budaya nasional, atau saat festival seni di
kota-kota besar. Workshop dan lomba online sering dilakukan setiap bulan untuk menjaga
minat anak muda tetap tinggi.

Di mana terjadi?

Kegiatan pelestarian budaya berlangsung di berbagai kota, termasuk Jakarta, Yogyakarta, dan
Bali, sekaligus melalui platform daring seperti YouTube, Instagram, dan TikTok. Dengan
begitu, budaya tradisional bisa diakses lebih luas dan tidak hanya terbatas pada wilayah
tertentu.
Mengapa budaya hampir terlupakan?
Masuknya hiburan digital, seperti media sosial, film asing, dan musik modern membuat
minat anak muda terhadap budaya lokal menurun. Ditambah, sebagian sekolah belum secara
aktif memasukkan materi budaya dalam kurikulum, sehingga generasi muda kurang
menyadari pentingnya mempertahankan warisan budaya. Banyak anak muda yang
menganggap tradisi kuno dan ketinggalan zaman, padahal budaya merupakan identitas
bangsa yang harus dilestarikan.
Bagaimana cara mempertahankan budaya?
Para penggiat budaya memanfaatkan media digital untuk mengenalkan tradisi dengan cara
yang lebih modern dan menarik. Misalnya, membuat video tutorial menari atau memainkan
alat musik tradisional, lomba online kostum adat, dan kampanye edukasi melalui media
sosial. Strategi ini terbukti efektif menarik minat generasi muda tanpa mengurangi esensi
budaya asli.
Menurut Ratna Sari, Ketua Komunitas Pelestari Tari Nusantara, “Kita harus
menyesuaikan cara penyampaian budaya agar relevan dengan anak muda. Media digital
bukan musuh, tapi alat untuk melestarikan budaya. Anak muda bisa belajar menari atau
memainkan alat musik tradisional melalui video online, lalu berpartisipasi dalam acara
langsung.”
Selain itu, beberapa universitas kini mulai memberikan mata kuliah budaya digital, yang
mengajarkan cara menggabungkan teknologi dan tradisi. Hal ini membuat mahasiswa tidak
hanya belajar budaya, tetapi juga mampu menyebarkannya secara kreatif kepada masyarakat
luas.
Meski tantangan di era digital sangat besar, upaya kreatif komunitas, mahasiswa, dan sekolah
membuktikan bahwa budaya lokal masih bisa bertahan. Dengan kesadaran, inovasi, dan
pemanfaatan teknologi secara bijak, tradisi nenek moyang tetap bisa diwariskan kepada
generasi berikutnya. Era digital bukan penghalang, melainkan peluang untuk menjadikan
budaya lebih hidup dan relevan di mata anak muda.

Nama :Maikel Dikola. Samudra
Npm :24100042
Mk : Jurnalisme Media Cetak
Program studi :Ilmu komunikasi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *